CBS bekerja paling optimal di jalanan kering dengan kondisi lalu lintas yang tidak terlalu ekstrem. Pengendara akan merasakan manfaatnya saat berhenti di lampu merah, mengurangi kecepatan di jalan ramai, atau saat melakukan pengereman bertahap.
Namun, saat hujan deras atau di jalan menurun terjal, pengendara tetap perlu berhati-hati karena tarikan rem yang terlalu kuat pada CBS tetap bisa menyebabkan roda terkunci, terutama roda belakang.
ABS dirancang untuk justru paling berguna di kondisi jalan yang kurang bersahabat. Permukaan basah, licin, berbatu, atau bahkan sedikit berpasir bukanlah masalah besar bagi ABS.
Sistem ini akan terus menyesuaikan tekanan rem puluhan kali per detik untuk menjaga traksi optimal.
Dari sisi harga, motor dengan sistem CBS lebih terjangkau dibandingkan varian yang sama dengan ABS. Komponen CBS yang mekanis dan sederhana membuat biaya produksinya lebih rendah.
Perawatan rutin pun tidak jauh berbeda dengan sistem rem konvensional, penggantian kampas rem, pengecekan minyak rem, dan pelumasan komponen bergerak secara berkala. Ini menjadikan CBS pilihan yang ekonomis untuk jangka panjang.
Sementara itu, motor ber-ABS dibanderol dengan harga lebih tinggi, biasanya sekitar Rp3-5 juta lebih mahal dari varian non-ABS.
Biaya perawatan pun ikut meningkat karena sistem ini memiliki komponen elektronik yang lebih kompleks, seperti sensor kecepatan, ring gear, modul kontrol, dan katup-katup hidrolik khusus.
Perbaikan jika terjadi kerusakan juga memerlukan peralatan diagnostik dan teknisi yang lebih terlatih. Namun, banyak pengendara berpendapat investasi ekstra ini sebanding dengan tingkat keselamatan yang didapatkan.
(Erha Aprili Ramadhoni)