Sementara itu, Chief Operating Officer PT HMID Fransiscus Soerjopranoto menyampaikan hal senada mengenai baterai LFP. Menurutnya, setelah digunakan, material yang ada di dalam baterai tidak bisa digunakan kembali dan akan menyebabkan limbah.
Karena itu, Hyundai memutuskan tetap setia dengan baterai dengan bahan baku nikel yang masih bisa didaur ulang ketika sudah tak digunakan kembali. Menurutnya, ini akan sangat baik untuk masa depan lingkungan di Indonesia.
“Jadi, untuk masa depan, atau untuk pasar Indonesia, atau untuk masyarakat sendiri, baterai NCM adalah jalan utama. Jadi, itulah jalan yang harus kita lakukan. Tapi, dalam jangkauan, baterai LFP lebih unggul dan mudah dikembangkan,” tutur Frans.
(Erha Aprili Ramadhoni)