TANGERANG - Pakar otomotif mengungkap sejumlah hal yang masih menjadi pertimbangan orang dalam membeli mobil listrik. Hal ini mulai dari infrastruktur hingga jual kembali.
Hal ini diungkap pakar otomotif Yannes Martinus Pasaribu. Ia mendapati pada kelompok masyarakat kelas menengah (middle class), ada beberapa hal yang dipertimbangkan ketika membeli mobil listrik. Salah satunya adalah biaya operasional yang bisa dihemat dari mobil bensin ke battery electric vehicle (BEV).
“Dia mulai lihat berapa dia harus bayar kredit per bulan, berapa operasional untuk beli BEV, yang tadinya dia memakai bensin atau solar kemudian dia konversikan ke listrik, berapa banyak hematnya,” tuturnya di arena GIIAS 2026, ICE BSD, Tangerang, dikutip Jumat (7/8/2026).
Hal lainnya adalah terkait infrastruktur. Menurutnya, bagi konsumen middle class, masalah infrastruktur charging masih menjadi hal yang dicemaskan.
Yannes juga menyebutkan, bagi sebagian konsumen, tak sedikit yang mengkhawatirkan nilai jual kembali dari mobil listrik. Pasalnya, saat ini harga mobil listrik mengalami depresiasi ketika hendak dijual kembali.
“Untuk kelompok mendang-mending di Indonesia, middle class terutama kelompok usia milenial awal dan tengah. Begitu dia beli nanti kalau dia jual turunnya berapa persen dan gampang enggak ngejualnya,” tuturnya.
Sementara itu, Head of Training Department VinFast Indonesia, Rinaldi Ramdani, menjelaskan pihaknya memiliki sejumlah program dalam memasarkan mobil listrik di Indonesia. Brand asal Vietnam itu fokus memasarkan mobil listrik di Indonesia.