JAKARTA – Percakapan publik di ruang digital menunjukkan arah yang menarik sekaligus mengandung pesan politik yang tidak boleh diabaikan. Di media sosial, mesin pencari, dan platform berbagi video, tema budaya digital, nostalgia, musik, dan konten kreatif mendominasi atensi masyarakat, baik di Indonesia maupun secara global.
Fenomena ini bukan sekadar tren hiburan, melainkan sinyal perubahan relasi warga dengan ruang digital itu sendiri.
Anggota DPR RI Komisi II, Azis Subekti, mengatakan Indonesia, dengan ratusan juta pengguna internet dan tingkat partisipasi media sosial yang sangat tinggi, kini hidup dalam ekonomi atensi yang sesungguhnya.
“Musik daring, video pendek, dan konten kreatif menjadi arus utama konsumsi publik, melampaui berita dan informasi kebijakan. Ini bukan sekadar preferensi, tetapi cerminan kejenuhan kolektif terhadap ruang digital yang selama ini terlalu cepat, gaduh, dan penuh kompetisi tanpa jeda,” ujar Azis, Jumat (9/1/2026).
Praktisi di bidang digitalisasi dan big data analytics ini mengatakan, nostalgia, lagu lama, visual era 1990–2000-an, hingga format konten sederhana, muncul sebagai reaksi kultural.