JAKARTA – Hyundai Motor Group dan LG Energy Solution Ltd bakal membangun pabrik sel baterai kendaraan listrik. Rencananya, pabrik ini akan dipasarkan di Indonesia dan kemungkinan untuk diekspor.
Head of Marketing PT Hyundai Motors Indonesia (HMID) Astrid A Wijana mengatakan, pabrik sel baterai akan dibangun di Karawang, Jawa Barat dan akan beroperasi pada 2024.
Pabrik ini akan memproduksi sel batarai sebesar 10 gigawatt hour per tahun dan akan terus ditingkatkan. Diprakirakan jumlah tersebut diklaim dapat menyuplai 150 ribu mobil listrik.
“Kami punya komitmen untuk memastikan ekosistem kendaraan listrik terbentuk melalu kerja sama dengan LG Energi Solution membangun pabrik baterai di Karawang,” ujarnya.
Astrid juga mengungkapkan bahwa pihaknya juga menandatangani MoU dengan Adaro Minerals menjelang pelaksanaan B20. Kerja sama ini dijalin untuk memastikan suplai alumunium (bahan terpenting baterai) terjamin.
Dikutip dari Yonhap, pada pembangunan pabrik sel baterai ini, Hyundai menginvestasikan modal sebesar USD 1,1 miliar atau setara 16,3 triliun untuk membangun pabrik baterai mobil listrik di Karawang.
Disebutkan, Hyundai dan LG akan menerima dana dari lima perusahaan kuangan internasional yang berbeda dengan periode pinjaman 10 tahun dan secara berlangsung mengambil pinjaman saat proyek berlangsung.
Pembangunan pabrik baterai ini diklaim dapat mengurangi biaya produksi kendaraan listrik dan akan memakan 50% anggaran. Hyundai juga mengklaim kehadirkan mobil listrik mengurangi biaya produksi membuat mobil listrik.
“Mobil listrik Hyundai itu kan sudah dibuat di Indonesia. Kalau bicara mengenai mobil listrik murah itu ada banyak hal di dalamnya. Kita bicara tentang regulasi, ada baterai, dan sebagainya, jadi murah itu sangat subjektif,” ujar Astrid.
Astrid mengatakan, hal terpenting dari sekedar memberikan mobil listrik dengan harga murah adalah memastikan membangun mobil listrik yang dapat memenuhi kebutuhan konsumen.
“Saya tidak bisa menjawab apakah nanti akan jadi murah atau mahal, tapi yang pasti pada awalnya semua teknologi baru itu pasti mahal. Tapi seiring berjalannya waktu, semakin banyak yang pakai, semakin banyak yang membuat, pasti harganya akan mengikuti,” ungkapnya.
(Citra Dara Vresti Trisna)