JAKARTA – Xiaomi secara resmi menghentikan dukungan untuk MIUI, antarmuka Android yang menjadi titik awal perusahaan sekaligus salah satu UI paling populer di dunia. Pada puncaknya, MIUI memiliki lebih dari 500 juta pengguna aktif bulanan sebelum akhirnya digantikan oleh HyperOS.
Pada 2026 hanya ada dua perangkat yang menerima pembaruan MIUI, yaitu Redmi A2 dan Redmi A2+, yang mendapat Android 13 sebagai peningkatan OS utama, tetapi tetap menerima patch keamanan dan pembaruan kecil. Pembaruan terakhir untuk keduanya tiba pada Desember dengan versi firmware V14.0.44.0.TGOMIXM, meskipun situs resmi menyebutkan end-of-life (EOL) kedua perangkat tersebut pada 24 Maret 2026.
Setelah EOL perangkat terakhir yang menjalankan MIUI terlewati, antarmuka ini kini resmi dihentikan dari semua jenis pembaruan perangkat lunak. Hal ini sekaligus menandai berakhirnya warisan MIUI, yang awalnya dimulai sebagai proyek ROM kustom untuk ponsel Android pihak ketiga.
Dilansir Gizmochina, MIUI adalah produk pertama Xiaomi, dirilis pada Agustus 2010 berbasis Android 2.2 Froyo, sebelum perusahaan meluncurkan perangkat keras. Versi awal MIUI didistribusikan sebagai ROM kustom untuk ponsel Android pihak ketiga.
MIUI cepat menarik komunitas antusias karena menawarkan pembaruan beta mingguan, penambahan fitur agresif, dan porting ke perangkat non-Xiaomi. Kisah asal usul yang berorientasi komunitas ini membantu MIUI mendapat reputasi sebagai antarmuka “ramah pengutak-atik,” dengan dukungan rooting dan modifikasi yang lebih kuat dibanding UI OEM lain saat itu.
MIUI berfokus pada kustomisasi visual, bukan minimalisme Android standar. Segera setelah itu, MIUI menyertakan aplikasi bawaan untuk fungsi inti seperti telepon, pesan, catatan, musik, dan galeri. Xiaomi juga menghadirkan mesin tema canggih yang dapat mengubah ikon, font, suara, layar kunci, dan elemen UI sistem, jauh sebelum pesaingnya.
Fitur penting yang menjadi identitas MIUI meliputi Second Space, Dual Apps, App Lock, aplikasi tersembunyi, dan perekaman panggilan bawaan. Popularitas MIUI mendorong Xiaomi masuk ke pasar perangkat keras, meluncurkan ponsel bermerek Mi di China, lalu berekspansi ke India dan pasar global.
MIUI melampaui 100 juta pengguna aktif bulanan global pada 2015, 200 juta pada 2018, 300 juta pada 2019, 400 juta pada awal 2021, dan 500 juta pada November 2021. Pada puncaknya, sekitar 15% populasi dunia menggunakan ponsel Xiaomi/Redmi/Poco dengan MIUI.
Pada Oktober 2023, Xiaomi mengumumkan sistem operasi baru, HyperOS, sebagai pengganti MIUI. Beberapa hari kemudian, Xiaomi meluncurkan Xiaomi 14 sebagai ponsel pertama dengan HyperOS.
Peralihan ini dilakukan karena MIUI kesulitan menghubungkan ratusan juta perangkat di 200 kategori produk, mulai dari speaker pintar hingga AC dan mobil. Xiaomi memiliki tumpukan firmware campuran, sehingga pengembangan terpadu dan pengalaman lintas perangkat sulit diimplementasikan.
Pengembangan HyperOS dimulai sejak 2014 (eksplorasi) dan 2017 (R&D), dengan tujuan mendukung seluruh ekosistem perangkat melalui kerangka sistem terintegrasi. HyperOS dibangun di atas basis Android yang dikembangkan mendalam dan sistem IoT Vela milik Xiaomi, berjalan di atas kernel Linux. Sistem ini lebih ringan dibanding MIUI, memberikan kinerja lebih baik, serta pengalaman konsisten.
HyperOS menjadi pilar strategi Xiaomi “Manusia x Mobil x Rumah”, menghubungkan perangkat pribadi, produk rumah pintar, dan kendaraan listrik dalam platform terkoordinasi. Salah satu elemen kunci adalah HyperConnect, yang memungkinkan jaringan dan penemuan perangkat secara real-time. Misalnya, ponsel dapat berfungsi sebagai kunci mobil, menampilkan kamera ke TV, atau mengelola perangkat rumah pintar tanpa bergantung pada aplikasi vendor.
Meski berfokus pada integrasi ekosistem, HyperOS tetap mempertahankan sebagian besar bahasa antarmuka MIUI, sambil menawarkan pemanfaatan sumber daya lebih baik, keamanan lebih ketat, dan pengalaman konsisten.
(Rahman Asmardika)