Menurutnya, dana yang dialokasikan untuk SIM card tersebut bisa direalokasikan untuk kebutuhan lain yang menguntungkan baik bagi operator maupun pelanggan.
"Misalnya industri beli 500 juta (SIM card), yang jadi pelanggan berapa? Kalau dia saving 300 juta SIM card x USD0,5 jadi USD150 juta atau sama dengan Rp2 triliun. Itu minimal, lebih baik dibagi sebagian untuk pelanggan, terserah dalam bentuk pengurangan harga atau apa, sebagian untuk improve Ebitda operator," papar menteri yang akrab disapa Chief RA itu.
Baca juga: Ketahui Jumlah Pengguna yang Telah Registrasi Sim Card, Nih Caranya!
Diakui Chief RA, kebiasaan berganti SIM card memang sudah menjadi karakteristik masyarakat di Indonesia. Oleh karenanya, Chief RA menyarankan baik pelanggan maupun operator untuk menahan diri. "Dua-duanya harus bisa nahan. Harus ada perubahan lanskap dari tatanan industri sendiri, cari yang efisien terus," ujarnya. (lnm)
(Kemas Irawan Nurrachman)