Pabrik ACEH menggunakan bekas fasilitas perakitan mobil China, Geely, di River Green Industrial Complex, Bojong Jonggol, Cibubur, Cileungsi, Jawa Barat. Luas total area pabrik mencapai 40 hektare. Pabrik itu mampu memproduksi 30 ribu mobil per tahun. Sementara produksi kendaraan penumpang Esemka akan dilakukan di pabrik yang masih dalam proses pembangunan di Desa Demangan, Kecamatan Sambi, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.
Hal ini memberikan sinyal bahwa proyek mobil Esemka akan hidup kembali. Mobil yang bakal diperkenalkan terlebih dulu sebagai pertanda munculnya Esemka adalah jenis pikap. Produk PT ACEH tersebut akan ditujukan sebagai kendaraan angkutan barang di perdesaan. Rencananya, ada dua varian pikap yang akan diproduksi. Masing-masing memiliki mesin 1.000 dan 2.000 cc. Namun, yang pertama diperkenalkan terlebih dulu adalah varian 1.000 cc.
Managing Director PT ACEH Hosea Sanjaya sempat mengatakan bahwa mobil pikap Esemka ditargetkan meluncur pada Agustus 2016. Namun setelah ditunggu-tunggu hingga pengujung Agustus, produk yang dijanjikan tidak kunjung diluncurkan, bahkan sampai saat ini kabarnya belum jelas.
Batal meluncurkan mobil pikap perdana di Agustus, proyek mobil Esemka kembali meredup. Lalu Hendropriyono mengumumkan bahwa pihaknya menghentikan kerja sama dengan Proton. Menurut dia, kerjasama tidak diperpanjang karena kondisi Proton yang semakin sulit. Di awal 2016, Proton diketahui mengirim proposal kerjasama ke hampir 20 perusahaan automotif global. Intinya, Proton menawarkan sebagian besar sahamnya untuk kelanjutan nasib perusahaan yang didirikan oleh Mahathir Mohamad itu.
"Tahun lalu kan baru MoU. Karena masalah politik di negaranya yang enggak berkembang. Tapi kan kita punya proyek swasta, Esemka," kata Hendropriyono, Rabu 21 September 2016.
Setelah melepas kerja sama dengan Proton, Esemka membidik perusahaan automotif lain. Hendropriyono berencana menggandeng produsen mobil asal Eropa atau China. Namun ia enggan membocorkan lebih detail mengenai perusahaan yang akan digandeng. Pihaknya masih melakukan pembahasan internal. Dikhawatirkan, apabila rencana lebih lanjut bocor ke publik, maka akan ada upaya untuk menghambat pengembangan proyek tersebut.
Sampai sini jelas bahwa proyek mobil Esemka masih menunggu perkembangan perusahaan kerjasama. Eseemka memang tidak mungkin berdiri sendiri, melainkan perlu menggandeng perusahaan yang sudah lebih berpengalaman. Namun seperti apa produk Esemka ke depannya, apakah akan bercitara rasa Eropa atau China? Tunggu saja. (san)
(Dian AF)