JAKARTA - Para ilmuwan mengatakan bahwa tsunami yang menghancurkan Palu lebih besar dibandingkan dengan gempa yang memicunya. Namun beberapa faktor lain, termasuk teluk yang panjang dan sempit, menghasilkan gelombang raksasa.
Setidaknya 844 orang meninggal akibat bencana tersebut. Para pejabat mengatakan jumlah korban akan meningkat, mungkin bisa mencapai ribuan.
Gempa berkekuatan 7,5 SR yang terjadi pada Jumat (27/9) sore, saat mayoritas warga biasanya sedang salat di masjid, merobohkan beberapa gedung di Palu dan daerah sekitarnya.
Namun, pertemuan kondisi geofisika yang tidak lazim menyebabkan tsunami terlokalisir yang mampu menghancurkan gedung-gedung dan tentu saja, menimbulkan korban jiwa.
“Gelombangnya mencapai setidaknya dua sampai tiga meter dan ada kemungkinan lebih dari itu,” kata Jane Cunneen, salah satu peneliti dari Fakultas Teknik dan Sains, Universitas Curtin di Bentley, Australia Barat.
Dilihat dari ukuran gempa, seharusnya tidak menyebabkan tsunami sebesar itu.
Sebaliknya, tsunami di Palu terjadi karena pergeseran sesar dengan pola strike-slip, yaitu ketika bongkahan kerak-kerak Bumi saling bergerak ke dalam satu sama lain di sepanjang bidang horizontal.
“Pergeseran seperti ini umumnya tidak menyebabkan tsunami, karena mereka tidak menyebabkan kenaikan dasar laut yang terlalu besar,” kata Cunneen.
Jadi apa yang menyebabkan munculnya gelombang mematikan itu? Setidaknya ada tiga faktor, kata para peneliti kepada AFP.
Baca juga: Kominfo Imbau Masyarakat Tak Sebarkan Hoaks soal Gempa Bumi Sulteng