Namun, masalah utama adalah penggunaan modul GSM untuk transfer data biometrik modul tersebut terlalu lambat untuk mentransfer besarnya volume dari data yang diperoleh.
Ahli keamanan di Kaspersky Lab, Olga Kochetova mengungkapkan, masalah utama dengan biometrik adalah, tidak seperti password atau kode pin yang dapat dengan mudah dimodifikasi, mustahil untuk mengubah sidik jari atau iris mata pengguna.
"Oleh karena itu, jika data Anda diretas sekali saja, maka tidak akan aman untuk menggunakan metode otentikasi biometrik lagi. Itulah mengapa sangat penting untuk menjaga data tersebut tetap aman dan mengirimkannya dengan cara yang aman," ujarnya dalam keterangan resmi kepada Okezone, Rabu (28/9/2016).
Menurutnya, data biometrik juga dicatat dalam paspor modern yang disebut e-paspor serta visa. Jadi, jika seorang penyerang mencuri e-paspor, mereka tidak hanya memiliki dokumen, tetapi juga data biometrik orang itu. Mereka telah mencuri identitas seseorang.
"Penggunaan alat-alat yang mampu membahayakan data biometrik bukan satu-satunya ancaman siber potensial terhadap ATM. Hacker akan terus melakukan serangan berbasis malware, serangan blackbox dan serangan jaringan untuk merebut data yang nantinya dapat digunakan untuk mencuri uang dari bank dan nasabahnya," pungkasnya.
(Kemas Irawan Nurrachman)