JAKARTA - Para ahli Kaspersky Lab baru-baru ini menyelidiki bagaimana penjahat cyber memanfaatkan teknologi otentikasi terbaru ATM yang rencananya akan dipergunakan oleh perbankan.
Di saat banyak organisasi keuangan mempertimbangkan solusi berbasis biometrik menjadi salah satu teknologi tambahan paling menjanjikan dari metode otentikasi yang ada saat ini.
Teknologi baru ini dianggap sebagai teknologi pengganti dari metode yang ada. Namun, justru sebaliknya penjahat cyber melihat biometrik sebagai peluang baru untuk mencuri informasi sensitif.
Seiring berjalannya waktu, desain perangkat tersebut telah ditingkatkan agar tidak mudah terdeteksi. Dengan penerapan yang jauh lebih sulit, tetapi bukan tidak mungkin untuk mengkloning chip dan pin dari kartu pembayaran, perangkat dikembangkan menjadi apa yang disebut sebagai 'skimmer’.
Sebagian besar fungsi masih sama, namun mampu mengumpulkan informasi dari chip kartu, memberikan informasi yang cukup untuk melakukan serangan relay online. Industri perbankan menanggapi isu ini dengan solusi otentikasi terbaru, beberapa di antaranya berdasarkan pada biometrik.
Menurut penyelidikan Kaspersky Lab terhadap kejahatan siber underground, sudah ada setidaknya dua belas penjual menawarkan skimmer yang mampu mencuri sidik jari korban dan setidaknya tiga penjual underground sudah meneliti perangkat yang mampu secara illegal memperoleh data dari urat nadi telapak tangan dan sistem identifikasi iris mata.
Gelombang pertama dari skimmer biometrik diamati melalui "presale testing" di September 2015. Bukti yang dikumpulkan oleh peneliti Kaspersky Lab mengungkapkan bahwa selama pengujian awal, pengembang menemukan beberapa bug.