JAKARTA - Oli pada mobil hybrid dan konvensional (mesin pembakaran internal) berbeda. Perbedaan teknologi pada kedua model itu juga membuat spesifikasi oli berbeda.
Mobil hybrid menggabungkan mesin bensin dan motor listrik. Hal ini membuat spesifikasi oli pada mobil hybrid tidak sama dibandingkan mobil konvensional.
"Kita lihat hybrid itu kan sistemnya start stop engine. Sebenarnya konvensional juga ada start stop engine, tapi di waktu tertentu. Sementara hybrid tidak tertentu di mana baterai lemah mesinnya itu akan hidup sendiri," ujar Technical Support PTT Lubricants Indonesia, Ardho, di ICE BSD Tangerang, dikutip Minggu (11/10/2026).
Peralihan otomatis karena fitur start dan stop itu membuat suhu mesin lebih cepat turun. Hal ini berbeda dibandingkan mobil konvensional.
Meski banyak mobil konvensional memiliki fitur start and stop, tapi hanya terjadi pada waktu-waktu tertentu. Sementara pada mobil hybrid, terjadi secara otomatis ketika baterai melemah beralih ke mesin bensin.
"Karena teknologi mesin hybrid itu kan start stop engine yang memang dia lebih rentan terhadap suhu tinggi dan rendah jadi cepat terelmusibilitas," tuturnya.
Karena itu, pada oli untuk mobil hybrid, terdapat zat khusus untuk mengatasi dampak penurunan suhu yang secara tiba-tiba itu.
"Jadi oli hybrid itu ada namanya aditif khusus antioksidan tinggi," ujarnya.
Diketahui, belakangan tren elektrifikasi terus meluas. Kini semakin banyak orang melirik mobil hybrid dan listrik. Pada era elektrifikasi ini, pihaknya mengembangkan oli yang relevan dengan kondisi saat ini.
Direktur Distributor PTT Lubricants di Indonesia, Hannes Chang, menyebut hal ini membuat pelumas juga terus beradaptasi.
“Perkembangan teknologi kendaraan yang cepat menuntut oli untuk terus beradaptasi. Evotec dikembangkan bukan sekadar sebagai formula tunggal, melainkan landasan teknologi pelumas PTT agar tetap relevan dengan beragam karakteristik kendaraan modern, mulai dari mesin konvensional (bensin/diesel), hybrid, hingga elektrifikasi,” katanya di kesempatan yang sama.
Berdasarkan data yang dipaparkan, pelumas tersebut diklaim mampu meningkatkan efisiensi bahan bakar hingga 11 persen berdasarkan pengujian Sequence VI yang berkaitan dengan standar ILSAC GF-7A.
Selain itu, hasil pengujian menunjukkan pengurangan keausan timing chain hingga 20 persen dan keausan kem atau komponen mekanisme katup hingga 15 persen. Teknologi ini juga diklaim memberikan perlindungan hingga 60 persen lebih baik terhadap risiko Low-Speed Pre-Ignition (LSPI), yakni pembakaran dini yang dapat terjadi pada putaran mesin rendah.
(Erha Aprili Ramadhoni)