JAKARTA - Oli motor harus diganti tepat waktu. Terlebih pada musim kemarau seperti saat ini.
Sering kali pemilik kendaraan bermotor menunda waktu mengganti oli karena ingin berhemat. Namun, bukannya hemat, menunda-nunda waktu ganti oli justru bisa memicu kerusakan mesin.
Berdasarkan prediksi BMKG, musim kemarau 2026 diperkirakan akan lebih kering dan lebih panjang, dengan puncak pada Juli hingga September. Beberapa daerah bahkan diprediksi akan melampaui 35 derajat.
“Suhu lingkungan yang tinggi membuat temperatur kerja mesin ikut meningkat. Akibatnya, oli lebih cepat teroksidasi sehingga kemampuan melumasi dan melindungi komponen mesin menurun. Jika tetap digunakan melewati masa pakainya, risiko keausan komponen meningkat,” ujar Senior Analyst PCO & Specialties PT Pertamina Lubricants, Mulianto, Sabtu (25/7/2026).
Banyak pengguna kendaraan masih menjadikan jarak tempuh sebagai satu-satunya patokan jadwal mengganti oli. Padahal, kendaraan yang sering digunakan dalam kondisi macet atau kondisi stop-and-go membuat membuat mesin bekerja pada temperatur yang lebih tinggi, sehingga oli mengalami penurunan kualitas lebih cepat.
Oleh karena itu, selain mempertimbangkan jarak tempuh kilometer, penting juga memperhatikan pola penggunaan kendaraan, kondisi pemakaian, serta lama pemakaian kendaraan agar perlindungan mesin tetap optimal.
Tetap hemat bukan berarti menunda penggantian oli. Beberapa langkah berikut dapat membantu menekan biaya tanpa mengorbankan kesehatan mesin.
Hindari sering menggeber kendaraan di RPM tinggi
Kebiasaan memacu kendaraan di putaran tinggi membuat mesin bekerja dalam tekanan dan suhu yang jauh lebih besar. Dalam kondisi ini, oli harus melumasi lebih cepat untuk menjaga suhu mesin. Kebiasaan ini dapat memperpendek umur oli karena oli mengalami proses oksidasi dan penguapan yang lebih cepat, sekaligus menurunkan viskositas sebelum waktunya.