Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Bedah Cara Kerja Fitur Antitabrakan di Xforce

Erha Aprili Ramadhoni , Jurnalis-Rabu, 18 Maret 2026 |17:51 WIB
Bedah Cara Kerja Fitur Antitabrakan di Xforce
Bedah Cara Kerja Fitur Antitabrakan di Xforce (Dok MMKSI)
A
A
A

JAKARTA - Fitur keamanan menjadi salah satu hal penting dalam kendaraan. Fitur ini membantu menjamin keselamatan serta keamanan pengemudi saat berkendara. 

Fitur keamanan saat ini pun beragam. Mulai dari airbags maupun fitur lainnya yang lebih canggih seperti  Adaptive Cruise Control (ACC) with low speed follow, Automatic High Beam (AHB), dan Forward Collision Mitigation (FCM). 

Pada Mitsubishi  Xforce Ultimate DS, tersemat sejumlah fitur keamanan. Fitur tersebut adalah 6 airbags (berkat penambahan 2 Curtain Airbags), serta Mono Camera, Sensor Radar di depan dan belakang, dan Ultrasonic Parking Sensor, yang memungkinkan beragam fitur pada teknologi "Diamond Sense” bekerja. 

Sementara "Diamond Sense” terdiri atas Adaptive Cruise Control (ACC) with low speed follow, Automatic High Beam (AHB), Forward Collision Mitigation (FCM), Lead Car Departure Notification System (LCDN), Blind Spot Warning (BSW), Rear Cross Traffic Alert (RCTA),  Auto Headlight, Auto Rain Sensor, dan juga Rear Camera. 

Dari beragam fitur tersebut, ada teknologi yang membantu pengemudi mengurangi risiko tabrakan depan yakni Forward Collision Mitigation (FCM). FCM adalah fitur keselamatan aktif yang dirancang untuk mendeteksi potensi tabrakan dari depan dan memberikan peringatan dini kepada pengemudi. Bahkan ketika pengemudi tidak respon, sistem dapat secara otomatis melakukan pengereman untuk mengurangi dampak atau bahkan mencegah terjadinya tabrakan.

Fitur ini bisa berdiri sendiri maupun merupakan bagian dari rangkaian teknologi keselamatan Mitsubishi Motors bernama Diamond Sense yang terdapat pada beberapa model mobil penumpang terbaru.

Manfaat FCM dalam berkendara sehari-hari akan sangat membantu dalam berbagai kondisi, seperti lalu lintas macet stop and go, perjalanan dalam kota dengan jarak kendaraan rapat, situasi pengemudi kurang responsif akibat kelelahan, dan bisa mencegah kecelakaan akibat keterlambatan reaksi. 

“Ini kan sebetulnya bagian dari ADAS ya. Jadi, sistem kerjanya itu nggak beda sama ADAS manapun. Dia punya sensor di spion depan, bagian atas yang selalu membuat sonar atau radar ke depan," ujar Brand Ambassador Mitsubishi Motors Indonesia, Rifat Sungkar, dikutip Rabu (18/3/2026).

Ia menjelaskan, sensor itu terhubung dengan sistem pengereman. 

"Nah, untuk jarak sensor di FCM, itu juga sama pola kerjanya sama Adaptive Cruise Control, bisa di-setting sensitivitinya. Tapi, FCM bedanya sama Adaptive Cruise Control, Cruise Control bisa diatur jaraknya. Tapi, FCM akan kerja secara otomatis. Ini non-cancel feature. Jadi, dia akan selalu on di mana-mana,” tuturnya.

 

Cara Kerja FCM 

FCM bekerja dengan mengandalkan sensor radar dan kamera yang terpasang di bagian depan mobil, biasanya pada grille dan bagian atas kaca depan. Berikut alur kerjanya:
- Deteksi Objek di Depan. Sensor FCM secara aktif memantau kondisi jalan dan mendeteksi kendaraan, sepeda motor, atau objek lain di depan mobil.
- Peringatan Dini. Jika sistem mendeteksi jarak yang terlalu dekat dan berpotensi menyebabkan tabrakan, FCM akan mulai beraksi dan memberikan peringatan visual di panel instrumen dan peringatan suara agar pengemudi segera bereaksi.
- Pengereman Otomatis. Apabila pengemudi tidak melakukan pengereman atau manuver penghindaran, FCM akan mengaktifkan rem secara otomatis untuk mengurangi kecepatan atau menghentikan kendaraan, mengadaptasikan aksi sesuai situasi.
- Mitigasi Dampak Tabrakan. Pada kondisi tertentu, meski tabrakan tidak sepenuhnya bisa dihindari, FCM tetap membantu mengurangi tingkat keparahan benturan.

Ketentuan dan Batasan FCM

Meski canggih, FCM memiliki beberapa ketentuan dan keterbatasan yang penting dipahami sebagai berikut:
- FCM bekerja optimal pada kecepatan tertentu, umumnya di kecepatan rendah hingga menengah (tergantung model kendaraan).
- Sistem bisa saja jadi kurang akurat ketika kondisi tertentu seperti saat hujan deras, kabut tebal, atau ketika kamera/radar tertutup kotoran.
- FCM bukan pengganti kewaspadaan pengemudi, melainkan sistem pendukung keselamatan.
- Objek yang sangat kecil, diam total, atau bergerak tidak wajar bisa saja tidak terdeteksi secara sempurna.
- Pengemudi tetap wajib menjaga jarak aman dan fokus saat berkendara.
 

(Erha Aprili Ramadhoni)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita ototekno lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement