JAKARTA — Pada 20–21 Januari 2026 lalu, langit Eropa dan Amerika Utara dihiasi cahaya berwarna-warni, aurora borealis yang memukau dan spektakuler. Fenomena langka itu disaksikan banyak orang, terutama di daerah sekitar Kutub Utara. Namun, di Indonesia langit tetap gelap.
Tidak tampaknya aurora di Indonesia faktanya bukan karena cuaca, melainkan karena fisika dasar Bumi yang fundamental.
Aurora adalah cahaya alami berwarna-warni hasil tabrakan partikel bermuatan dari Matahari dengan gas-gas di lapisan atmosfer Bumi (ketinggian 90–300 km). Di Kutub Utara disebut aurora borealis, sedangkan di Kutub Selatan disebut aurora australis.
Prosesnya dimulai ketika Matahari melepaskan aliran partikel bernama angin surya (solar wind). Ketika partikel-partikel ini sampai ke Bumi, mereka berbenturan dengan medan magnet Bumi yang berbentuk seperti lonceng pada kedua kutub. Medan magnet ini mengarahkan partikel-partikel menuju Kutub Utara dan Selatan, bukan ke daerah tropis. Ketika partikel-partikel ini bertabrakan dengan molekul oksigen dan nitrogen di atmosfer, mereka melepaskan energi dalam bentuk cahaya berwarna hijau (paling umum), biru, ungu, atau merah.