JAKARTA - BYD dinobatkan menjadi penjual mobil listrik paling laris di dunia. Penjualan perusahaan asal China ini bahkan mengalahkan Tesla.
Sepanjang 2023, BYD menjual 3 juta unit mobil listrik, sementara Tesla 1,8 juta unit.
Bagaimana BYD bisa mengalahkan penjualan Tesla?
Dalam video dari Bloomberg Originals, dilihat Selasa (9/1/2024), menjelaskan faktor yang membuat BYD mampu mengalahkan Tesla.
Hal yang utama adalah lantaran adanya dukungan dari pemerintah China. Pemerinta di sana ikut andil agar pabrikan mereka, seperti BYD dapat memproduksi mobil listrik berkualitas. Tercatat, total dana hingga USD30 miliar atau sekitar Rp462,6 triliun telah dikucurkan untuk pengembangan.
Bahkan, jumlah itu diproyeksi meningkat hingga 2027 mencapai USD97 miliar atau sekira Rp1.495 triliun.
"Kita belum pernah melihat dukungan sebesar ini sebelumnya dari pemerintah sebuah negara," tutur Senior Editor Bloomberg, Craig Trudell
Tidak hanya itu, pemerintah China bahkan memberikan beragam insentif guna meningkatkan penjualan mobil listrik.
Kebijakan insentif ini diberlakukan tak hanya untuk BYD. Tesla pun merasakan kebijakan ini. Lantaran kebijakan ini, perusahaan yang dipimpin Elon Musk tersebut akhirnya mau membangun pabrik mobil listrik di China. Di sinilah letak strategi yang dilakukan BYD.
Dengan Tesla juga ikut berjualan mobil listrik di China, BYD lalu berupaya memproduksi mobil listrik dengan harga yang lebih murah.
"Di China saat ini ada 10 mobil listrik BYD yang harganya semua jauh lebih murah dibanding dengan Tesla Model 3," terang Craig Trudell.
Strategi ini berbeda dengan Tesla yang berupaya memopulerkan mobil listrik dengan model-model premium. Elon Musk menerapkan langkah ini lantaran yakin mobil listrik akan lebih menarik dimiliki jika berhasil jadi simbol prestise.
Berbeda dengan Tesla, BYD malah memulainya dengan menghadirkan mobil-mobil listrik harga terjangkau. Setelah itu, barulah BYD memproduksi mobil listrik premium.
Selain itu, mereka juga berupaya menekan harga mobil listrik dengan membangun industri pendukung dan komponen. Ini nantinya dapat dimanfaatkan untuk membuat mobil listrik.
Dengan begitu, seluruh komponen yang dibutuhkan mobil listrik semuanya dibuat BYD, sehingga bisa sangat leluasa membuat mobil listrik dengan harga berbeda.
"Volkswagen hanya bisa membuat komponen mobil listrik sebesar 35 persen, Tesla cuma 68 persen, BYD justru memiliki komponen mobil listrik sebesar 75 persen," terang Craig Trudell.
Kemandirian industri komponen itu membuat BYD tak bergantung dengan pihak lain. Ketika ada masalah pada pasokan industri komponen, BYD tak akan terdampak.
Contohnya saat krisis semikonduktor terjadi pada awal 2023. BYD tetap melanjutkan produksi mobil listrik tanpa kendala.
"BYD seperti memegang kendali masa depan mereka sendiri," tutur Craig Trudell.
(Erha Aprili Ramadhoni)