JAKARTA - Adopsi mobil listrik di kawasan Eropa kini menemukan tantangan yang cukup berat, yakni peralihan yang lambat dari konsumen yang cenderung tidak merespons dengan sigap perubahan industri otomotif gegara sensitivitas harga.
Melansir reuters, Selasa (14/11/2023), meskipun penjualan mobil listrik di Eropa meningkat 47% selama sembilan bulan pertama 2023, para produsen mobil seperti Tesla, Volkswagen, dan Mercedes-Benz menyampaikan kekhawatiran atas tingkat bunga yang tinggi dan pasar yang lemah. Hal tersebut kemudian membuat calon pembeli enggan untuk beralih ke mobil listrik.
BACA JUGA:
Disamping itu banyak konsumen yang masih meragukan keamanan, jarak tempuh, dan harga mobil listrik. Sebagian konsumen cenderung menunggu model yang lebih baik daripada membeli kendaraan saat ini yang dianggap tidak memiliki nilai jual nantinya.
"Banyak orang menganggap bahwa teknologi akan berkembang dan lebih memilih menunggu tiga tahun untuk model berikutnya daripada membeli kendaraan sekarang yang nilainya akan turun dengan cepat,” kata Niedermayer, salah satu pemilik dealer mobil di Bayern, Jerman.
Beberapa masyarakat menunjukkan bahwa meskipun mereka mempertimbangkan mobil listrik jadi kendaraan yang bakal dimiliki kedepan, kekhawatiran atas infrastruktur pengisian daya yang kurang, umur baterai, dan harga yang masih tinggi membuat para konsumen mengurungkan niatnya untuk beralih ke mobil listrik.
BACA JUGA:
Sebagai tambahan, di Inggris, mobil listrik baru rata-rata masih 33% lebih mahal daripada mobil dengan mesin konvensional, menjadi hambatan lain bagi calon pembeli.
Laporan menyebutkan bahwa kebanyakan model baru yang ditargetkan untuk konsumen menengah tidak akan tersedia sebelum 2025, dan pada saat yang sama, persaingan dari merek China seperti BYD dan Nio semakin memperluas eksistensi mereka di pasar Eropa.