KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) nampaknya telah menjadi salah satu teknologi yang harus dimiliki setiap negara. Tidak heran, jika negara-negara maju berlomba-lomba untuk berinvestasi pada keceradasan buatan tersebut.
Setalah Israel menyatakan ingin berinvestasi di AI untuk membuat senjata perang, kini gilaran Amerika Serikat yang ingin mengembangkan kecerdasan buatan tersebut. Amerika pun dilaporkan telah menganggarkan USD140 juta atau setara Rp2 triliun untuk pengembangan tersebut.
Melansir dari Engadget, Gedung Putih telah menjadikan pengembangan AI yang bertanggung jawab sebagai fokus administrasi dalam beberapa bulan terakhir. Mereka juga mengembangkan kerangka kerja manajemen risiko terkait AI.
Tak berhenti di situ, negara yang saat ini dipimpin oleh Joe Biden itu bakal mendirikan tujuh Akademi Nasional baru yang didedikasikan untuk penelitian AI dan mempertimbangkan seberapa pribadi perusahaan memanfaatkan teknologi tersebut.
Pada hari Selasa, AS mengumumkan langkah selanjutnya menuju tujuan terbaru termasuk merilis pembaruan untuk Rencana Strategis Litbang AI Nasional untuk pertama kalinya sejak 2019 serta mengeluarkan permintaan masukan publik tentang masalah AI yang kritis.
Departemen Pendidikan juga merilis laporannya yang sangat dinantikan tentang efek dan risiko AI bagi siswa. Meski Rencana Strategis Litbang AI Nasional OSTP, yang memandu investasi pemerintah federal dalam penelitian AI, belum diperbarui sejak Pemerintahan Trump.
Sebagaimana diketahui, rencana tersebut berusaha untuk mempromosikan inovasi yang bertanggung jawab di bidang yang melayani kepentingan publik tanpa melanggar hak-hak publik, keselamatan dan nilai-nilai demokrasi, yang telah dilakukan sampai saat ini melalui delapan strategi inti.