Sepuluh hari sebelum tanduk tersebut patah, para peneliti mengidentifikasi satu jenis sel induk yang cukup aktif dalam proses regenerasi, ternyata sel tersebut tetap ada pada tanduk tidak lama setelah tanduk itu patah. Tapi, pada hari kelima setelah tanduk tersebut patah, subtipe sel induk baru telah muncul.
Setelah peneliti mengidentifikasi beberapa tahap pertumbuhan, tim peneliti mengambil sel induk dengan potensi pertumbuhan kembali paling banyak. Kemudian, peneliti membiakkannya dalam cawan petri, sebelum menanamkannya ke dalam kepala tikus.
Setelah sekitar 45 hari, tikus telah mengembangkan tanduk mini yang dapat diidentifikasi dengan jelas, lantaran sel induk tersebut berdiferensiasi menjadi jaringan osteochondral, yang merupakan bagian integral dari perbaikan patah tulang.
Hasilnya, tanduk ini tumbuh dengan cepat dan menampilkan mekanisme genetik yang menghasilkan perkembangan kepada peneliti, serta memberikan wawasan bagaimana hal itu bisa digunakan dalam pengobatan tulang manusia.
Tapi, perlakuan semacam ini bisa menimbulkan kekhawatiran etis terhadap implantasi sel lintas spesies, dan harus diuji coba terlebih dahulu secara terperinci yang sebelum bisa diajukan untuk persetujuan.