LONDON - Jenis ledakan yang paling kuat di alam semesta berasal dari ledakan bintang masif. Ledakan bintang tersebut tertangkap dalam gambar secara detail dan belum pernah terjadi sebelumnya. Terobosan ini memberikan gambaran yang paling jelas tentang ledakan sinar gamma, yang telah mengejutkan para astronom sejak pertama kali ditemukan pada akhir 1960-an.
Ledakan besar tersebut menghasilkan energi sebanyak hitungan detik seperti matahari sepanjang 10 miliar tahun hidupnya. Menurut catatan tim pengamat pada saat ledakan tersebut terjadi, ledakan tersebut terlihat sangat jelas sehingga dapat dilihat "dengan sepasang teropong" meski terjadi 10 miliar tahun cahaya dari Bumi.
Dilansir dari DailyMail, Kamis (27/7/2017), tim ahli internasional mencatat kejadian tersebut hanya berlangsung beberapa milidetik hingga sekira satu menit. Sebuah ledakan sinar gamma (GRBs) terjadi saat sebuah bintang masif mati serta runtuh menjadi sebuah lubang hitam baru dan meledak sebagai supernova.
Ledakan tersebut memancarkan pancaran gas ke seluruh alam semesta dengan kecepatan cahaya. Berkat Keberuntungan yang luar biasa, para ilmuwan diberi peringatan dalam bentuk kilasan cahaya singkat sebelum ledakan tersebut terjadi.
Teleskop robotik melihat ledakan tersebut yang diberi nama GRB 160625B pada Juni 2016, memungkinkan para ilmuwan untuk menyaksikan ledakan besar kedua tersebut setelah Big Bang. Sehingga para ilmuwan dapat mencatat data terbaru tentang bagaimana ledakan tersebut dapat terjadi.
"Begitu terang Anda bisa melihatnya hanya dengan teropong. Biasanya mereka terjadi seketika, tapi kali ini kita mendapat secercah cahaya yang bertahan sedetik yang bertindak sebagai peringatan," ungkap profesor Carole Mundell dari University of Bath yang terlibat dalam studi tersebut.
Ia juga mengatakan terjadi penundaan sekira 100 detik, sehingga mereka bisa memposisikan teleskop. Kejadian tersebut sangat tidak biasa, dan ledakan itu berlangsung lebih lama dari biasanya. GRB yang berumur pendek adalah kilasan cahaya energi tinggi yang kuat dan terdeteksi oleh teleskop berbasis angkasa yang mengorbit di atas atmosfer Bumi, tetapi mereka sulit dijelaskan dengan teori ledakan standar.