Startup Jerman Berhasil Kembangkan Komputer Kuantum Portabel Bertenaga Berlian Pertama di Dunia

Rahman Asmardika, Jurnalis
Senin 10 Agustus 2026 12:18 WIB
Prosesor kuantum berbasis berlian yang baru ini merupakan yang pertama dari jenisnya yang melampaui ukuran 10 qubit. (Foto: Saxon-Q)
Share :

"Kami memiliki komputer kuantum yang berfungsi penuh," ujar Grundmann kepada Live Science. Menurut Grundmann, komputer kuantum perusahaan tersebut setara dengan komputer yang menggunakan modalitas lain. "Kami memiliki komputer kuantum yang dapat menjalankan kode kuantum yang bisa diakses melalui jaringan, dan ini merupakan sistem multi-pengguna, multi-tugas, dan multi-inti," katanya.

Jika sistem Saxon Q pada akhirnya terbukti sebanding dengan arsitektur komputasi kuantum solid-state yang ada saat ini, sistem tersebut akan menjadi salah satu generasi pertama komputer kuantum suhu ruangan yang mencapai kinerja serupa dengan sistem yang memerlukan kriogenik dan pemantauan di lokasi.

Kemudahan pemasangannya patut dicatat. Perangkat Saxon Q dapat dipasang ke dalam rak komputer standar dan dicolokkan langsung ke sumber listrik arus bolak-balik (alternating current/AC).

Hal ini memberikan keuntungan jangka pendek yang jelas bagi klien yang ingin menjalankan algoritma pada sistem kuantum tanpa harus melalui cloud. Grundmann mengatakan hal ini bisa sangat penting dalam skenario edge computing, seperti kendaraan otonom atau robotika, di mana komunikasi cloud dapat menyebabkan latensi yang tidak dapat ditoleransi.

Penelitian yang membandingkan sistem kuantum solid-state menunjukkan bahwa komputer kuantum superkonduktor biasanya beroperasi lebih cepat dibandingkan sistem NV berbasis berlian. Namun, belum jelas bagaimana trade-off antara kecepatan pemrosesan dan latensi cloud, atau apakah hal tersebut dapat diatasi melalui peningkatan skala (scaling).

Tantangan saat ini dalam meningkatkan skala komputer kuantum NV berbasis berlian hingga melampaui kisaran 512 qubit adalah ukuran cipnya. Cip Saxon Q saat ini terbatas hanya mendukung delapan atau 16 qubit. Untuk sistem yang lebih canggih, para ilmuwan perlu memadatkan ratusan—atau bahkan ribuan—qubit ke dalam satu larik guna mendukung operasi yang membutuhkan ratusan ribu atau jutaan qubit.

(Rahman Asmardika)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Ototekno lainnya