Salah satu kasus peretasan video game paling terkenal, yaitu Electronic Arts (EA) yang melapor menjadi korban serangan siber dan berakibat membahayakan 780 GB lebih kode sumber game.
Peristiwa itu, terjadi pada tahun 2021 lalu. Untungnya, mereka berhasil menjaga data pribadi pemain online. Tujuan dari gaming hacker ini semata-mata untuk mendapat keuntungan.
5. Cyberterrorists
Cyberterrorists adalah peretas yang bermain di ranah politik. Para peretas ini menggunakan keahlian mereka untuk menarik perhatian dengan mengganggu sistem informasi. Gangguan tersebut, dapat mengancam keselamatan fisik manusia bahkan menyebabkan hilangnya nyawa.
Salah satu kasus terjadi pada tahun 2010, ketika aktivis HAM di China dan Tibet diretas akun emailnya. Para cyberterrorists ini ingin mengacaukan rencana yang sudah dibuat.
6. Botnet Hackers
Bonet hacker adalah peretas yang memanfaatkan sepenuhnya nama mereka dan menggunakan botnet untuk melakukan serangan siber. Botnet sendiri merupakan sekumpulan program yang dapat menginfeksi jaringan komputer.
Bila sebuah perangkat terserang oleh botnet, hacker bisa mencuri data, merusak server, atau bahkan mengirimkan malware berbahaya. Peretas bisa menggunakan sekitar 20.000 botnet untuk membanjiri sistem dengan lebih dari 330 juta permintaan serangan.
Tujuan dari botnet hacker sendiri, menginfeksi perangkat dengan botnet untuk mencuri dan atau mengkompromikan informasi sensitif untuk kemudian dijual di dark web.
(Ahmad Muhajir)