Perkembangan Teknologi Informasi Era Industri 4.0 Gerus Tenaga Manusia di Dunia Kerja

Tim Okezone, Jurnalis
Sabtu 29 Januari 2022 16:39 WIB
Era industri 4.0 gerus tenaga manusia di dunia kerja (Foto: Intheblack)
Share :

Di lain pihak, School Director Sampoerna Academy, Dr. Mustafa Guvercin, mengutarakan bahwa kemampuan menciptakan adalah sesuatu yang baru tidak bisa digantikan oleh mesin pintar. Kompetensi ini, hanya dimiliki oleh manusia dan untuk membentuk SDM berkarakter seperti ini dibutuhkan metode pendidikan khusus.

“Nalar dalam berpikir kritis dilatih dalam materi-materi tentang sains, teknologi, rekayasa teknik, seni dan matematika. Cabang-cabang ilmu ini yang mendorong seseorang untuk memiliki pola pikir solutif dan inovatif,” jelas Mustafa.

Dia mengungkapkan, ada metode yang disebut STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts and Mathematics) yang bisa diterapkan agar pendidikian tidak tertinggal dengan laju era industri 4.0.

Mustafa menyebutkan, STEAM sendiri bukanlah metode baru, namun hanya sedikit lembaga pendidikan di seluruh dunia yang menerapkan konsep ini dalam kurikulum belajarnya. Dan Sampoerna Academy adalah pelopor pendidikan STEAM di Indonesia yang sampai saat ini memiliki cabang di berbagai kota di Indonesia.

“Kami melihat bahwa para orang tua ternyata sudah mulai menyadari betapa pentingnya menyiapkan anak-anak mereka di masa depan dalam menghadapi Industri 4.0," tuturnya.

Menurut dia, besar kemungkinan anak-anak di masa mendatang akan hidup di era Industri 5.0 yang nantinya bakal banyak digantikan oleh mesin dan robot.

Oleh karenanya, lanjut Mustafa, melalui konsep STEAM pihaknya berkeyakinan bahwa mereka akan menjadi SDM unggulan di masa depan karena kemampuan berpikir dan berinovasinya.

Dia menegaskan, membentuk sumber daya yang high qualified mutlak dibutuhkan karena di masa depan, para pencari kerja tidak saja bersaing dengan manusia tapi juga dengan mesin dan komputer.

Misalnya, pekerjaan seperti merancang strategi, memahami psikologi konsumen, membaca tren pasar tentu tidak bisa diserahkan dengan algoritma robot. Dibutuhkan sentuhan dan pikiran orisinal dari manusia.

“Kami mendorong siswa untuk berpikir kritis sehingga mereka mampu melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat oleh orang lain sejak dini. Memandang masalah bukan dari apa yang tampak saja, tapi juga dari apa yang tidak tampak. Kompetensi seperti ini sangat dibutuhkan di era industri berbasis teknologi,” ucapnya.

Ia menambahkan, rasionalitas tidak bisa digantikan oleh mesin pintar. Manusia tetap lebih unggul di sisi ini. Namun, rasionalitas harus dilatih dan dikembangkan. Pendidikan berbasis STEAM adalah jawaban untuk masalah ini.

(Ahmad Muhajir)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Ototekno lainnya