JAKARTA - Perang antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel berdampak pada melonjaknya harga minyak. Bahkan harga minyak sempat menyentuh USD100 per barel. Naiknya harga minyak tersebut ternyata berdampak terhadap pencarian mobil listrik.
Melansir Carscoops, Jumat (20/9/2026), sebuah studi baru-baru ini menunjukkan peningkatan tingkat adopsi EV tahun lalu mengurangi konsumsi minyak sebesar 2,3 juta barel per hari. Penghematan bahan bakar ini akan terus meningkat seiring dengan semakin banyaknya EV yang terjual. Pada tahun 2030, EV dapat membantu mengurangi konsumsi minyak global sebesar 5,25 juta barel per hari.
Seperti yang dicatat BloombergNEF, kontributor utama terhadap penurunan permintaan minyak adalah EV roda dua dan tiga, yang popularitasnya meningkat pesat, terutama di Asia.
Sebuah studi terpisah yang lebih konservatif, yang memperhitungkan seberapa sering kendaraan plug in hybrid electric vehicle (PHEV) beroperasi menggunakan bahan bakar fosil, memperkirakan penghematan minyak harian tahun lalu sebesar 1,7 juta barel.
Dengan laju ini, dan dengan harga rata-rata USD80 per barel, analisis tersebut mengatakan bahwa Tiongkok akan menghemat lebih dari USD28 miliar per tahun dalam impor minyak berkat industri kendaraan listriknya yang besar. Demikian pula, Eropa akan menghemat USD8 miliar, dan India dapat menghemat USD600 juta per tahun.