Konsep Teknologi Kabin Pesawat Bisa Dilepas Dinilai Berbahaya

Agregasi Harian Jogja, Jurnalis
Selasa 06 November 2018 10:03 WIB
Ilustrasi kabin pesawat yang dapat dilepas (Foto: Vladimir Tatarenko/YouTube)
Share :

Menurut statistik yang dirilis Boeing, hampir tiga perempat kematian akibat kecelakaan pesawat terbang antara 2005 dan 2014 terjadi selama fase-fase tersebut. Padahal insiden pada fase penerbangan inilah yang paling tepat untuk penerapan ide penyelamatan penumpang ala Tatarenko.

Namun demikian, statistik mencatat 1.000 kematian dalam sepuluh tahun terakhir karena kecelakaan yang terjadi selama fase jelajah terbang. Di fase inilah kabin yang bisa dilepas mungkin memiliki fungsi penyelamat yang sangat besar. Namun pada fase jelajah ini, Herve juga menilai ide Tatarenko sulit diterapkan dan malah bisa membahayakan penumpang.

Sebagian besar kecelakaan pesawat, atau sebanyak 80%, disebabkan human error (kesalahan manusia) yakni dengan hilangnya kendali pesawat dan terbang ke arah yang keliru.

“Kabin yang bisa dilepas tidak mungkin diterapkan dengan aman jika pilot kehilangan kendali atas pesawatnya,” kata pria yang juga menjadi Direktur Institut Teknologi Aerospace di Inggris itu.

Bahkan dalam kasus di mana pilot bisa merespons kerusakan mesin dengan tenang dan cepat, bisa jadi ide Tatarenko tetap sulit diterapkan dalam kondisi riil.

 

Baca juga: Samsung Beri Sinyal Kemunculan Ponsel Lipat via Facebook

“Ambil contoh penerbangan US Airways 1549, pilot Chesley B Sullenberger berhasil mendaratkan pesawat di sungai Hudson di New York setelah kedua mesinnya mati tertabrak burung sewaktu lepas landas,” kata dia.

Walau produsen pesawat tidak mungkin mengantisipasi semua skenario kecelakaan, setiap mesin pesawat diuji dan dirancang untuk tahan terhadap tabrakan burung. Pesawat juga dirancang tetap bisa terbang hanya dengan satu mesin. Namun dalam kasus US Airways, sang kapten nyatanya kehilangan semua mesinnya sehingga tidak bisa melakukan pendaratan darurat di landasan.

“Apa yang ditawarkan kabin yang bisa dilepas dalam kasus itu? Pada ketinggian rendah, tidak mungkin itu dilakukan. Lalu, bagaimana jika kabin itu mendarat di tengah kota?” ujar Herve.

Secara teknis, konsep Tatarenko juga bakal menemui kerumitan untuk membangun sistem keamanan seperti itu. “Bagaimana mekanisme dalam merangkai kabin yang aman, tapi tetap bisa memungkinkan pelepasan yang cepat dan aman juga. Jikapun secara teknis memungkinkan, tetap akan menambah masalah dalam hal pemeliharaan,” kata Herve.

Selain itu, bakal ada bobot tambahan dalam sistem yang diusulkan. Padahal berat adalah segalanya bagi produsen pesawat. Setiap tambahan bobot kendati hanya beberapa kilogram, membutuhkan lebih banyak tenaga dorong yang artinya lebih boros bahan bakar. Inefisiensi bahan bakar adalah hal yang paling tidak menarik bagi maskapai penerbangan.

(Ahmad Luthfi)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Ototekno lainnya