Terungkap! Ilmuwan Jelaskan Alasan Redupnya Bintang di Luar Angkasa

Dini Listiyani, Jurnalis
Jum'at 06 Oktober 2017 02:03 WIB
(Foto: NASA)
Share :

CALIFORNIA - Bintang yang diketahui mengalami penurunan dramatis dalam kecerahan memicu teori yang tak terhitung jumlahnya sejak penemuannya, dengan banyak dugaan bahwa sebuah megastruktur alien bisa berada di balik fenomena itu.

Namun kini, para ilmuwan mengatakan penyebab sebenarnya dari peredupan yang terlihat di Tabby Star mungkin jauh lebih biasa. Data dari misi Spitzer dan Swift NASA, serta observatorium Belgian AstroLAB IRIS telah mengungkapkan bahwa sinar ultraviolet (UV) bintang meredupkan lebih dari infrared-nya selama event ini.

Menurut para ahli, ini artinya sesuatu yang jauh lebih kecil dibandingkan usulan Dyson Sphere, awan debu yang paling tidak rata mengorbit bintang tersebut.

"Ini cukup banyak mengesampingkan teori megastruktur alien, karena hal itu tak bisa menjelaskan perudupan yang bergantung pada panjang gelombang. Kami menduga, ada awan debu yang mengorbit bintang itu dengan orbit orbital sekira 700 hari," kata penulis utama Huan Meng, dari Universitas Arizona, Tucson.

Para peneliti menyamakan jenis peredupan non-uniform ini untuk efek yang terlihat di Bumi setiap hari. Menurut NASA, Matahari tampak merah saat matahari terbenam, misalnya karena cahaya biru dan sinar UV terpencar oleh partikel mungil.

Dalam studi baru yang dipublikasikan di Astrophysical Journal, tim itu memperkirakan bahwa benda-benda yang menyebabkan peredupan misterius di Tabby Star tak lebih dari beberapa mikrometer lebarnya. Partikel ini harus lebi besar dari debu antar bintang, sebagai gantinya, mungkin debu di sekililing atau debu yang mengelilingi bintang.

Para peneliti mengumpulkan data pengamatan bintang Tabby dari Oktober 2015 hingga Maret 2017 dari dua teleskop NASA, Swift, yang mengambil pengukuran sinar X dan UV, dan Spitzer yang mengukur objek dalam infrared.

"Kami menemukan bahwa dari UV, sepanjang spektrum yang terlihat hingga IR, bintang tersebut meredupkan pada setiap panjang gelombang yang kami monitor," terang Huan Meng kepada Inverset pada September lalu.

Hal ini menunjukkan bahwa data awal yang dikumpulkan oleh teleskop Kepler NASA tak benar. Para peneliti menemukan bahwa tingkat peredaman dari bintang Tabby berbeda secara signifikan antara UV dan infrared, sehingga menunjukkan layar debu berukuran mikro yang perlu disalahkan karena peredupan tidak teratur ini.

"Hanya layar debu halus mikroskopis yang bisa menyebar cahaya bintang denga cara yang ditandai dengan pengukuran," tambah Dr. Meng yang dikutip dari Daily Mail, Jumat (6/10/2017).

Alih-alih alien, para peliti curiga bahwa cincin debu mikroskopis yang berasal dari circumstellar yang ditemukan sistem menyebabkan peredupan dan pencerahan bintang Tabby.

"Tidak bisa apa-apa dari media antar bintang. Tapi sementara para peneliti menduga peredupan disebabkan oleh cincin debu, mereka menekankan bahwa ini bukan kesimpulan yang pasti," jelas Dr. Meng.

Tabby Star telah membingungkan para astronom sejak pertama kali ditemukan pada 2015. Bintang tersebut, yang dikenal KIC 8462852, berjarak 1.400 tahun cahaya, dan meredup pada tingkat yang jauh lebih cepat dibandingkan bintang lainnya, yang oleh para ahli disebut adanya tanda alien yang memanfaatkan energi bintang.

Akan tetapi, studi baru menghilangkan kemungkinan megastruktur alien itu. Temuan baru ini membahas peredupan jangka panjang yang terlihat di Tabby Star, namun menurut NASA, kejadian jangka pendek masih menjadi misteri yang lebih besar.

Fenomena ini diamati tahun ini dalam pancaran tiga hari. Dan, penurunan ini juga bertentangan dengan penelitian yang dipublikasikan pada akhir Agustus, yang menunjukkan bahwa planet ini mirip cincin Saturnus disalahkan karena peredupan tak teratur.

Peneliti dari Universitas Antioquia di Kolombia membuat klaim itu dalam sebuah makalah yang diterbitkan di arsip elektronik Arxiv. Mereka berpendapat bahwa jika sebuah planet bercincin seperti Saturnus berada di orbit dekat bintang dengan cincin miring, tampaknya akan meredupkan cahaya yang datang darinya dalam pola yang tak beraturan.

Cincin-cincin itu pertama-tama akan menghalangi cahaya saat planet itu lewat di depan bintang, diikuti oleh planet itu sendiri, sebelum cincin kembali menghalangi lebih banyak cahaya.

Lantaran cincin miring akan berada di sudut yang berbeda pada masing-masing lintasan, itu akan berada di sudut yang berbeda di masing-masing lintasan, sehingga itu tampak sebagai kejadian acak.

(Dini Listiyani)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Ototekno lainnya