Ternyata! Pembangunan Piramida Merusak Lingkungan dalam Penjelasan Alquran dan Sains

Ahmad Luthfi, Jurnalis
Selasa 05 September 2017 06:01 WIB
(Foto: Reuters)
Share :

JAKARTA - Bangunan piramida yang bisa disaksikan oleh manusia saat ini berwujud besar, menjadi bangunan bersejarah dan sebagai situs yang bisa dikunjungi oleh wisatawan. Namun, tahukah Anda bahwa di balik megahnya piramida, terdapat kerusakan lingkungan yang ditimbulkannya.

Hal ini dijelaskan dalam buku Tafsir Ilmi 'Penciptaan Manusia dalam perspektif Alquran dan Sains' yang disusun oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Ada banyak ayat Alquran yang menegaskan manusia sebagai pembuat kerusakan terbesar di Bumi. Dalam aktivitasnya, manusia kerap kali tidak memperhatikan keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup.

Salah satu aktivitas yang mengabaikan kelestarian alam adalah pembangunan piramida secara besar-besaran di bawah komando Fir'aun.

Baca juga: Arkeolog Klaim Temukan Harta Karun di Piramida Giza, Benarkah?

"Dan (terhadap) Fir'aun yang mempunyai pasak-pasak (bangunan yang besar), yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri, lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu, karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab, sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi," Surah Al-Fajr Ayat 10-14.

Ayat-ayat ini tampak berbicara mengenai proses konstruksi piramida yang mengorbankan banyak manusia dan mengakibatkan kerusakan lingkungan. Antara 9.000-4.000 tahun sebelum masehi (SM), Afrika Utara dan Sahara adalah kawasan dengan padang rumput dan hutan yang lebat.

Curah hujan yang cukup tinggi membuat kehidupan akuatik di perairan bebas, seperti sungai dan danau, cukup melimpah. Para antropolog berspekulasi bahwa banyak penduduk Afrika dari pantai Laut Tengah bermigrasi ke Sahara.

Seperti di negeri asalnya, para pendatang ini hidup dari memelihara domba dan biri-biri. Mereka juga bekerja sebagai nelayan dan sudah mengenal tombak ikan, pancing, dan semacam jala.

Pada 4.000 tahun SM, penduduk bagian tengah Sahara sudah berternak sapi. Mereka mulai hidup menetap dan melakukan praktik bertani, seperti menanam sorgum, milet dan gandum.

Sejak 3.500 tahun SM, Afrika Utara mulai mengering ditengarai sebagai akibat dari pemanfaatan sumber daya alam yang berlebihan. Seperti diketahui, iklim yang basah memerlukan hadirnya tumbuhan, demikian juga sebaliknya.

Baca juga: Bangunan Mirip Piramida Ditemukan di Mars

Untuk membangun sebuah piramida, diperlukan batu sebagai bahan pokok, dan bahan lainnya dibutuhkan sebagai alat pengangkut batu itu ke lokasi pembangunan. Kebutuhan kayu sebagai bahan baku pembuatan alat angkut, seperti gerobak atau landasan rel, membuat eksploitasi hutan tidak terhindarkan.

Berdasarkan teori plantasi, dengan kondisi iklim dan tanah di sekitar Sungai Nil yang sangat mendukung, keanekaragaman tumbuhan yang ada di sana seharusnya cukup tinggi. Akan tetapi, apa yang ditemukan saat ini berlawanan dengan teori itu.

Jumlah pohon maupun jenisnya di tempat itu sangat miskin. Tumbuhnya pun secara sporadis, tidak dalam kondisi yang mengelompok. Kondisi yang sama juga terjadi pada bunga-bunga liar.

Kuat dugaan, hal ini disebabkan oleh penggundulan hutan secara total pada masa lalu.

(Ahmad Luthfi)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Ototekno lainnya