JAKARTA – Kecerdasan buatan (AI) tengah mendorong perubahan besar pada pasar tenaga kerja yang mengguncang industri di Negeri Tirai Bambu. Dampak dari perubahan ini paling dirasakan oleh profesional muda di bidang perangkat lunak.
Para programmer, yang dulunya dianggap sebagai tulang punggung ekonomi digital negara itu, dilaporkan banyak yang tersingkir secara massal akibat transformasi industri ke arah AI yang masif. Karier yang dulu menjanjikan dengan gaji tinggi kini menjadi tidak menentu dan diwarnai gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dan menyusutnya peluang.
Dilansir Hamrakura, Minggu, (11/10/2026), China memiliki 7 juta hingga 9,4 juta programmer. Namun, adopsi AI tampaknya membuat keahlian mereka semakin terpinggirkan, terutama dalam setahun terakhir.
Data menunjukkan bahwa pada 2025 perusahaan-perusahaan internet besar melaporkan bahwa hanya 20–30% dari kode mereka yang dihasilkan oleh AI. Pada 2026, angka tersebut melonjak hingga 90% di beberapa perusahaan.
Perubahan ini tidak disertai dengan pengumuman resmi mengenai PHK; sebaliknya, perusahaan secara diam-diam tidak memperbarui kontrak, menghentikan perekrutan, dan melakukan restrukturisasi departemen. Hasilnya adalah pemangkasan tenaga kerja secara senyap, di mana puluhan ribu pekerja menghilang dari daftar gaji tanpa adanya pengakuan resmi. Di berbagai perusahaan seperti Alibaba, Tencent, ByteDance, Meituan, dan JD.com, kabar mengenai PHK massal telah menjadi hal yang lumrah.
Pada Juni 2026 saja, Shopee memberhentikan insinyur berkinerja tinggi, Fliggy memutus hubungan kerja dengan pengembang senior yang berpengalaman satu dekade, dan Meituan memangkas 30% staf *backend*-nya dalam satu gelombang. Di banyak perusahaan, separuh meja kerja kini kosong tak berpenghuni. Ironi yang kejam adalah bahwa peningkatan efisiensi berkat AI tidak berujung pada berkurangnya beban kerja bagi mereka yang masih bertahan. Sebaliknya, atasan menuntut proyek yang dulunya memakan waktu sepuluh hari untuk diselesaikan hanya dalam satu hari, memeras tenaga karyawan hingga kelelahan sebelum akhirnya membuang mereka.
"Batas usia 35 tahun"—sebuah stigma lama di industri teknologi China—kini telah turun lebih rendah lagi. Para pemrogram yang baru menginjak usia awal 30-an mengaku dianggap "terlalu tua" dan "terlalu terbebani tanggung jawab keluarga" untuk bisa dipekerjakan.
Seorang pengembang Java yang telah dua kali terkena PHK dalam kurun waktu empat tahun mengeluhkan bahwa sekadar mencapai usia 30 tahun saja sudah menjadi tantangan di pasar yang kini sangat jenuh. Bagi mereka yang berusia pertengahan 30-an, situasinya sangat suram: cicilan rumah, kredit mobil, dan biaya pendidikan anak menjadi beban berat, sementara ancaman tergantikan oleh AI membuat mereka terjebak dalam ketakutan akan jatuh sakit, mengambil jeda istirahat, atau bahkan sekadar menganggur dalam jangka pendek.
Beijing tampaknya tidak terlalu khawatir dengan perkembangan ini. Partai Komunis China (PKC) mengedepankan AI sebagai simbol kemajuan nasional, dengan gencar mempromosikan "Rencana Aksi AI Plus" yang menargetkan tingkat penetrasi 70% di industri-industri utama pada tahun 2027 dan 90% pada tahun 2030. Namun di sisi lain, tidak ada kebijakan pendamping untuk melatih ulang pekerja yang kehilangan pekerjaan, menciptakan peluang kerja baru, atau menyediakan jaring pengaman sosial.
Dengan memprioritaskan kemajuan teknologi di atas mata pencaharian manusia, Beijing telah meninggalkan generasi yang pernah mendorong kebangkitan China. Banyak tenaga kerja, termasuk mereka yang terbiasa dengan pola kerja intensif 996 (pukul 9 pagi hingga 9 malam, enam hari seminggu) menghadapi pemutusan hubungan kerja (PHK).
Beberapa programmer dilaporkan telah meninggalkan industri ini sepenuhnya. Setelah PHK berulang kali, beberapa dari mereka kembali ke kampung halaman dan mengikuti pelatihan ulang sebagai teknisi listrik, tukang ledeng, tukang kayu.
Kondisi tersebut diperberat oleh faktor makroekonomi, seperti penyesuaian di sektor real estat dan dinamika rantai pasokan global, yang berdampak pada ketersediaan lapangan kerja bagi lulusan baru. Industri internet, yang sebelumnya menjadi motor utama mobilitas ekonomi kelas menengah, kini mengalami pengetatan rekrutmen di tengah melimpahnya jumlah lulusan perguruan tinggi.
Otomatisasi melalui AI juga memengaruhi stabilitas kerja di internal industri teknologi. Pengkodingan berbasis AI secara bertahap mengurangi ketergantungan pada pengembang manusia, sehingga memperpendek siklus kepastian karier dan meningkatkan persaingan di lingkungan kerja.
Secara keseluruhan, fenomena pengangguran di kalangan usia produktif ini menunjukkan pergeseran struktural pada pasar kerja China. Tanpa penyesuaian regulasi, perlindungan tenaga kerja, atau pembukaan sektor ekonomi baru secara memadai, penetrasi teknologi yang cepat berpotensi memperlebar ketimpangan ekonomi dan memengaruhi stabilitas sosial dalam jangka panjang.
(Rahman Asmardika)