Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Nekat Pakai BBM Tak Sesuai Rekomendasi di Mobil Hybrid, Ini Dampaknya pada Mesin!

Erha Aprili Ramadhoni , Jurnalis-Kamis, 01 Oktober 2026 |16:22 WIB
Nekat Pakai BBM Tak Sesuai Rekomendasi di Mobil Hybrid, Ini Dampaknya pada Mesin!
Nekat Pakai BBM Tak Sesuai Rekomendasi di Mobil Hybrid, Ini Dampaknya pada Mesin! (Ilustrasi/Dok Okezone)
A
A
A

JAKARTA – Pengguna mobil hybrid diminta untuk selalu menggunakan bahan bakar minyak (BBM) sesuai rekomendasi pabrikan. Langkah ini sangat penting agar komponen mesin tidak mengalami gangguan serius akibat penggunaan jenis BBM yang tak sesuai spesifikasi.

Kenaikan harga sejumlah jenis BBM belakangan ini memang berpotensi menambah beban biaya operasional kendaraan. Namun, beralih ke BBM bernilai oktan lebih rendah demi menekan pengeluaran justru menjadi ancaman besar bagi kesehatan mesin kendaraan.

1. Risiko Mesin Ngelitik (Knocking)

Mesin mobil modern, khususnya teknologi hybrid, dirancang memiliki rasio kompresi tinggi. Pada lineup mobil hybridToyota misalnya, rasio kompresi mesin berada di atas 13:1, sehingga membutuhkan bahan bakar dengan nilai Research Octane Number (RON) minimal di atas 90 atau sesuai standar panduan pabrikan.

Bahan bakar dengan nilai oktan lebih rendah memiliki sifat lebih mudah terbakar. Pada mesin hybrid modern, BBM beroktan rendah berisiko terbakar sendiri sebelum busi memercikkan api sesuai siklus kerja mesin. Kondisi ini memicu terjadinya knocking atau mesin mengelitik.

Proses pembakaran tidak sempurna akibat oktan rendah akan membuat mesin kehilangan tenaga (power loss). Suara mengelitik ini umumnya makin terdengar jelas saat mobil membawa muatan penuh, menyalip kendaraan lain, atau saat melintasi jalan menanjak. Dalam jangka panjang, fenomena ini akan mempercepat kerusakan komponen di dalam ruang bakar.

2. Penumpukan Kerak dan Pemborosan BBM

Dampak buruk lainnya adalah munculnya deposit kotoran atau kerak di dalam ruang bakar yang menempel dan mengganggu kinerja komponen. Selain itu, suhu di ruang mesin akan melonjak akibat beban kerja komponen yang tidak ideal.

Hal ini berujung pada penurunan performa kendaraan. Alih-alih hemat, pengemudi cenderung menginjak pedal gas lebih dalam untuk mengejar tenaga, yang justru membuat konsumsi bahan bakar menjadi makin boros serta mempercepat ausnya komponen internal mesin.

 

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita ototekno lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement