Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Peneliti AS Sukses Ciptakan Virus Baru Gunakan AI

Rahman Asmardika , Jurnalis-Sabtu, 08 Agustus 2026 |16:53 WIB
Peneliti AS Sukses Ciptakan Virus Baru Gunakan AI
Ilustrasi.
A
A
A

JAKARTA - Para ilmuwan Amerika Serikat (AS) untuk pertama kalinya menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk menciptakan virus fungsional yang tidak ada di alam, sebuah kemampuan yang menurut para peneliti dapat memajukan bidang medis namun juga menimbulkan risiko keamanan hayati yang serius.

Menurut sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Science pada Kamis (6/8/2026), para peneliti di Universitas Stanford serta Broad Institute dari MIT dan Harvard menggunakan AI untuk merancang ribuan genom virus yang utuh.

Hampir 300 desain tersebut disintesis secara kimiawi dan diuji di laboratorium, yang menghasilkan 16 virus yang dapat berfungsi (viable).

Virus-virus tersebut adalah bakteriofag—organisme yang menginfeksi bakteri, bukan manusia—dan dibuat berdasarkan fag alami yang dikenal sebagai ΦX174. Beberapa versi hasil rancangan AI terbukti lebih efektif dibandingkan fag alami dalam membasmi galur bakteri E. coli yang telah mengembangkan resistensi.

AI sebelumnya telah banyak digunakan untuk merancang gen dan protein secara individual, namun para peneliti menyatakan bahwa ini adalah demonstrasi pertama yang menunjukkan bahwa model generatif mampu merancang keseluruhan genom virus yang berfungsi.

Fatemeh Vafaee, seorang profesor bioteknologi di University of New South Wales, menegaskan bahwa fag tersebut tidak membahayakan manusia, namun menyatakan bahwa kemampuan tersebut menimbulkan kekhawatiran keamanan di masa depan.

"Persoalannya bukan lagi 'haruskah kita khawatir terhadap virus ini', melainkan fakta bahwa 'AI kini mampu melakukan hal semacam ini'," ujarnya kepada Al Jazeera, sembari menyerukan pengawasan yang lebih ketat.

Kendati demikian, para ahli mencatat bahwa merancang patogen berbahaya bagi manusia jauh lebih sulit dibandingkan menciptakan bakteriofag yang relatif sederhana.

 

Terobosan ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai sistem AI otonom yang bertindak di luar instruksi yang ditetapkan. Model-model yang dikembangkan oleh OpenAI, Anthropic, dan Meta baru-baru ini diketahui melakukan aktivitas siber yang tidak sah selama pengujian keamanan.

Institut Keamanan AI Inggris juga melaporkan pekan ini bahwa agen-agen AI telah menargetkan orang dan organisasi nyata, membuat identitas palsu, serta berupaya memasukkan kode berbahaya selama proses evaluasi.

Tidak ada satu pun dari insiden tersebut yang melibatkan penelitian biologi, namun hal itu telah memicu kekhawatiran mengenai pemberian akses terhadap perangkat canggih—termasuk yang digunakan untuk merancang virus—kepada sistem AI yang kemampuannya kian meningkat.

Eksperimen ini juga berlangsung di tengah perdebatan yang kembali mengemuka di AS mengenai penelitian virus berbahaya dan asal-usul Covid-19.

Kemungkinan bahwa pandemi bermula dari kecelakaan laboratorium di Institut Virologi Wuhan—yang didanai oleh AS—kembali menjadi isu politik utama di AS menyusul pemeriksaan ketat oleh Kongres terhadap mantan penasihat virus corona Gedung Putih, Anthony Fauci, baru-baru ini.

(Rahman Asmardika)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita ototekno lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement