Rem terasa lebih dalam saat ditekan atau ditarik, dan tidak se-responsif biasanya. Pengendara perlu usaha lebih untuk menghentikan motor. Kondisi ini sering disebut “rem ngempos” dan jadi tanda performa minyak rem sudah menurun.
Rem terasa kurang pakem atau butuh jarak lebih panjang untuk berhenti. Responsnya juga bisa terasa tidak konsisten, terutama saat kondisi darurat. Jika dibiarkan, risiko rem tidak bekerja maksimal bisa meningkat.
Meski tanda-tanda tersebut dapat dikenali, penggantian minyak rem sebaiknya tidak menunggu hingga gejala muncul. Secara umum, penggantian dianjurkan setiap 24 bulan atau 24.000 km, mana yang lebih dulu tercapai. Langkah ini penting sebagai bagian dari perawatan untuk menjaga sistem pengereman tetap optimal.
“Kami menyarankan konsumen untuk melakukan penggantian minyak rem di bengkel resmi. Selain menggunakan produk yang sesuai standar, proses pengerjaan dilakukan oleh teknisi terlatih dengan prosedur yang tepat, sehingga keamanan dan performa kendaraan tetap terjaga,” tutur Wahyu.
(Erha Aprili Ramadhoni)