Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Penjualan Mobil di Indonesia Turun pada 2023, Ini Penyebabnya

Muhamad Fadli Ramadan , Jurnalis-Selasa, 16 Januari 2024 |20:17 WIB
Penjualan Mobil di Indonesia Turun pada 2023, Ini Penyebabnya
Penjualan mobil di Indonesia turun pada 2023, ini penyebabnya. (Ilustrasi/MPI)
A
A
A

JAKARTA - Penjualan mobil di Indonesia sepanjang 2023 tak mencapai proyeksi yakni sebesar 1,05 juta unit. Bahkan, jumlah penjualan mobil pada 2023 turun 4 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Sepanjang 2023, berdasarkan data wholesales atau penjualan dari pabrik ke diler yang dirilis Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), sebesar 1.005.802 unit. Sementara secara retail atau pengiriman dari diler ke konsumen sebesar 998.059.

Pada 2022, secara wholesales penjualan mobil di Indonesia tembus 1.048.040 unit dan 1.013.582 secara retail. Pencapaian penjualan sepanjang 2023 di bawah target yang dicanangkan Gaikindo.

Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara mengatakan, terhambatnya penjualan lantaran pada September dan Oktober. Kenaikan inflasi Amerika Serikat (AS) dan tingginya suku bunga AS berimbas pada pengetatan pembiayaan di perbankan.

“Penjualan di tahun 2023 bisa mencapai 1.050.000 (unit) ini proyeksinya. Tapi kenyataannya di bulan September dan Oktober terjadi penurunan penjualan bulanan,” kata Kukuh di Jakarta Selatan, Selasa (16/1/2024).

“Kenapa terjadi penurunan penjualan? Pada bulan-bulan itu, Amerika menaikkan interest rates-nya sehingga dolar itu keluar. Karena dolar keluar, perbankan melakukan pengetatan peminjaman,” sambungnya.

Ia menyebut, pengetatan yang terjadi di perbankan menjadi faktor terbesar menurunnya penjualan. Mengingat, sebesar 80 persen penjualan kendaraan bermotor menggunakan pembiayaan dari jasa keuangan.

Kendati begitu, Kukuh mengatakan industri otomotif nasional mencatatkan hal positif dari sisi ekspor utuh atau CBU (completely built up). Secara total, Indonesia mengirimkan mobil sebanyak 505.134 unit atau naik 6,7 persen dibandingkan tahun lalu.

“Meskipun terjadi penurunan (penjualan domestik) 4 persen dibandingkan tahun sebelumnya, ekspor CBU kita tembus di atas 500 ribu unit. Ini cukup mengesankan pertumbuhannya di tengah kondisi yang jadi proses pemulihan after pandemi, kita mampu menembus ekspor CBU kita,” ujarnya.

Penjualan domestik secara domestik terendah terjadi pada April, yakni hanya 58.981 unit. Sementara September yang dianggap menjadi faktor menurunnya penjualan membukukan penjualan 79.919 unit.

(Erha Aprili Ramadhoni)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita ototekno lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement