JAKARTA – Recall atau penarikan kembali adalah hal yang wajar pada produksi kendaraan di pasaran. Penarikan kembali harus dilakukan karena menjadi bentuk tanggung jawab produsen kendaraan kepada konsumen.
Recall juga dilakukan untuk memastikan keamanan konsumen selaku pengguna bisa tetap terjaga dari cacat produksi. Proses ini dilakukan ketika produsen mendapat keluhan atau laporan dari konsumen.
Sebelum mengambil keputusan recall, produsen selalu mengecek kembali atau investigasi pada model yang dinilai bermasalah. Investigasi dilakukan untuk mengecek kebenaran laporan konsumen.
Jika terbukti, maka produsen akan memberitahukan kepada konsumen terkait proses recall dan menyarankan untuk datang ke dealer resmi untuk mendapat perbaikan atau penggantian komponen secara gratis.
Dikutip dari iSeeCars, sepanjang 2022 ada lebih dari 400 recall yang dilakukan sejumlah produsen. Recall ini berdampak pada lebih dari 25 juta unit kendaraan. Jumlah ini menurun dibandingkan 2021, yang mana ada 1.000 recall yang melibatkan 35 juta kendaraan.
Berdasarkan analisis iSeeCars melalui data dari National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) yang kemudikan dihitung jumlah recall selama jangka waktu 30 tahun, didapatkan hasil Tesla Model Y paling banyak terdampak penarikan kembali.
Mobil listrik buatan produsen asal Amerika Serikat itu diproyeksikan memiliki 62 kali recall selama jangka waktu 30 tahun. Seluruh lini model Tesla menempati empat dari lima kendaraan yang paling banyak terdampak penarikan kembali.
“Tingkat recall bisa bervariasi antara merek dan model. Tapi, variasi ekstrem dalam jumlah recall yang diproyeksikan akan diterima mobil selama masa pakainya adalah sesuatu yang tidak kami duga,” kata Eksekutif Analis iSeeCars, Karl Brauer.