Sebagaimana kita ketahui, media sosial sering dijadikan sarang penyebaran Hoax, misinformasi, dan disinformasi.
Sesi ke 2 event #NgobroldiMeta yang bertajuk “Facebook: Today & Tomorrow” membahas tentang upaya Meta untuk memerangi Misinformasi di seluruh platformnya.
Pihak Meta sendiri sudah menaruh perhatian yang sangat besar terhadap misinformasi. Mereka memilih langkah yang agresif untuk memerangi segala sesuatu tertkait dengan penyebaran misinformasi.
Meta telah membuat jaringan global dengan 90 mitra yang memiliki tugas sebagai pemeriksa fakta secara independen, agar platform Meta selalu memberikan informasi yang akurat dan terpercaya, serta dapat menghapus konten-konten yang melanggar peraturan mereka.
Untuk mendukung hal ini, Meta melakukan berbagai cara seperti, berkonsultasi dengan para ahli, meningkatkan kemampuan teknis pihak internal mereka, dan mengembangkan program pengecekan fakta.
Meta melakukan berbagai pencegahan penyebaran di masing-masing platform Meta seperti Facebook, Instagram, WhatsApp, dan Messenger.
Meta ingin menghambat laju penyebaran misinformasi lewat pelabelan, tombol konteks, pemberitahuan berita lama, dan pemberitahuan peringatan.
Pelabelan sendiri ditentukan oleh para pemeriksa fakta dengan beberapa kriteria, yaitu Salah (False), Salah Sebagian (Partly False), Konteks yang Hilang (Missing Context), Sindiran (Satire), dan Diubah (Altered).
Tiap-tiap konten akan dicek berdasarkan kriteria ini dengan menggunakan teknologi AI untuk menentukan adanya misinformasi atau tidak.
Tombol konteks digunakan untuk memberi informasi tentang sumber artikel asli dari konten yang di-posting pada fitur “Feed”. Fitur tombol konteks dapat memberikan beragam informasi dari mulai kapan artikel tersebut pertama kali disebarkan hingga kapan pembuat artikel mendaftar ke Facebook.
Pemberitahuan berita lama akan menjelaskan kepada pengguna tentang artikel yang sudah berusia lebih dari 90 hari.
Berbeda dengan sebelumnya, pemberitahuan peringatan akan memberi tahu para pengguna orang-orang yang akan memberi “Like” dan akan “Membagikan/Shared” pada konten di sebuah “Halaman/Page” yang sudah berulang kali membagikan konten palsu di Facebook.
Salah satu layanan perpesanan instan terbesar di dunia ini juga sangat rentan dalam penyebaran misinformasi.
Maka dari itu pihak Meta mengambil sikap tegas untuk memerangi konten-konten tersebut dengan cara seperti mengembangkan teknologi pendeteksi spam, pembatasan pengiriman pesan, mengedukasi para pengguna mengenai cara penggunaan WA secara bijak, hingga bekerja sama dengan pemerintah, masyarakat sipil, serta penegak hukum untuk menanggulangi berita HOAX dan yang mengandung misinformasi.
Berbeda dengan pesan biasa, WA akan melarang pesan massal secara langsung. Meta menggunakan teknologi mesin pembelajaran yang mutakhir dan canggih untuk mengidentifikasi dan melarang akun-akun yang diduga terlibat dalam pengiriman pesan massal dan pesan otomatis.
Setelah ditemukan oleh mesin pembelajaran, secara otomatis akun tersebut akan diblokir, sehingga tidak lagi bisa menyebarkan berita yang mengandung misinformasi.
Berbeda dengan WA, Meta menggunakan teknologi yang dapat mendeteksi gambar untuk memerangi konten misinformasi di Instagram. Ketika sudah ditemukan oleh teknologi pendeteksi gambar milik Meta, mereka akan menyaringnya dari hashtag/tagar dan fitur “Explore/Jelajahi”.
Messenger
Aplikasi Messenger sendiri sudah memiliki fitur-fitur yang dapat mengatasi penyebaran konten misinformasi seperti autentikasi dua faktor, pemblokiran pesan, pelaporan pesan, pembatasan penerusan pesan, dan pemberitahuan keamanan.
(Andera Wiyakintra)