Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kisah Ilmuwan Bimbing Perempuan Petani Gunakan Teknologi untuk Ekspor

Agregasi VOA , Jurnalis-Kamis, 08 Oktober 2020 |21:35 WIB
Kisah Ilmuwan Bimbing Perempuan Petani Gunakan Teknologi untuk Ekspor
Ilustrasi perempuan petani. (Foto: Unsplash)
A
A
A

TEKNOLOGI kini dapat digunakan hampir di semua lini kehidupan. Mulai di dalam rumah hingga sektor pekerjaan yang berada di luar ruangan. Pasalnya melalui kecanggihan teknologi segala aktivitas akan dapat diselesaikan dengan cepat dan berkualitas. Salah satu bidang yang turut menerapkan teknologi adalah pertanian.

Petani dan perempuan merupakan kelompok masyarakat yang sering menghadapi tantangan dalam hidup karena ketiadaan pengetahuan dan akses teknologi. Ilmuwan Muda Indonesia (IMI) pun coba menjadi jembatan itu untuk mengatasi kesenjangan kehidupan petani dan perempuan.

Baca juga: Pecahkan Rekor! Kerangka T-Rex Dilelang Ratusan Miliar Rupiah 

Para ilmuwan tersebut terdiri dari sekelompok pemuda yang fasih teknologi. Ketika mengetahui banyak petani dan perempuan yang masih jauh dari sentuhan teknologi, mereka berupaya meningkatkan kehidupan dengan menawarkan pemanfaatan teknologi. Salah satu yang mereka tawarkan adalah "Tanihood".

"Kebanyakan mereka adalah petani yang belum pernah ekspor. Mereka perlu tahu standar keamanan pangan seperti apa, buyer itu karakteristiknya seperti apa? Yang paling penting juga adalah bagaimana mengumpulkan informasi yang benar tentang produknya agar bisa disampaikan ke pembeli," ujar Firly Savitri, salah satu pendiri Tanihood, seperti dikutip dari VOA, Kamis (8/10/2020).

Perempuan petani di NTT belajar aplikasi Her Venture. (Foto: JarPUK NTT/VOA)

Tanihood adalah website yang menghubungkan sejumlah petani dan beberapa kelompok tani Indonesia langsung ke pembeli. Mereka menyasar bukan hanya pembeli dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Situs itu juga mengembangkan digital marketing supaya petani tidak terpaksa menjual hasil panen mereka kepada tengkulak.

Sebelum ekspor produk pertanian dilakukan, mengedukasi para petani selama 12–18 bulan menjadi tantangan bagi perusahaan berbasis teknologi itu. Setelah mendapatkan data kelompok tani yang berpotensi ekspor dari Departemen Pertanian, community development turun ke lapangan dan tinggal bersama petani agar dapat memberi dampak terhadap kehidupan petani, baik secara sosial maupun ekonomi.

Baca juga: Kuburan Penguin Purba Berusia 5.000 Tahun Ditemukan di Antartika 

Sejumlah petani kopi, misalnya, dilatih agar mengetahui cuping score, uji cita rasa kopi, harga kopi sejenis di pasaran, dan pengemasan agar dapat dijual dengan standar harga produk ekspor premium. Beberapa kelompok tani juga dilatih sertifikasi good manufacturing practices (GMP) dan sertifikasi organik internasional.

Firly menegaskan fair trade yang diterapkan mencontoh perusahaan yang punya nilai seperti di Eropa yang menghargai jerih payah petani. "Mereka (petani) bisa lihat bahwa keuntungan paling besar adalah harga buat mereka, bukan buat marketingnya. Selama ini kan kebalik ya, mereka yang dapat nilai paling kecil, sementara orang jualnya bisa berkali lipat," jelas Firly Savitri kepada VOA.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita ototekno lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement