Phys melaporkan, kerangka Ophiomitrella floorae memiliki ukuran yang kecil. Ukuran itu jauh berbeda dibandingkan jenis bintang rapuh pada umumnya. Namun Dr John Jagt, ahli paleontologi di Museum Sejarah Alam di Maastricht langsung mengidentifikasinya sebagai bintang rapuh dengan tulang belakang panjang.
“Saya menganggap spesimen itu termasuk dalam kelompok bintang rapuh yang sangat langka dalam catatan fosil, tetapi identitas aslinya tetap membingungkan dengan informasi yang ada. Saat memeriksa mikrofosil yang diekstraksi dari batuan yang sama yang menghasilkan fosil bintang rapuh, saya melihat fragmen kerangka mikroskopis yang tampaknya berasal dari spesies yang sama,” ucap Dr John Jagt, dikutip Phys.
Meski pada awalnya tampak meragukan, namun setelah 20 tahun lamanya, pada akhirnya Ophiomitrella floorae dapat dinyatakan sebagai bintang rapuh. Pembenaran ini dibuktikan setelah Dr. Ben Thuy dan Dr. Lea Numberger, ahli paleontologi di Museum of Natural History di Luxemberg, melakukan identifikasi ulang dengan sudut pandang dan teknologi baru dalam dunia paleontologi.
Identifikasi ulang yang dilakukan Thuy dan Numberger dilakukan dengan mengandalkan “sisa-sisa kerangka mikroskopis dan kerangka fosil lengkap dari spesies bintang rapuh yang sama.” Dengan itu, tidak hanya menemukan spesies baru, mereka juga berhasil membuka fakta baru mengenai spesies yang hidup di laut.
“Bintang baru yang rapuh pasti hidup di laut yang dangkal dan hangat, sementara kerabatnya yang masih hidup ditemukan di laut dalam. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran besar dalam distribusi selama jutaan tahun terakhir,” ucap Dr. Ben Thuy, dikutip Courthouse News Service.