JAKARTA - Fenomena kabut debu yang bergerak dari Afrika melintasi Samudra Atlantik menuju Amerika Serikat dinamakan “Saharan Dust Plume”. Fenomena tersebut diperkirakan mendarat pekan ini di seluruh negara bagian AS bagian tenggara, dikutip Forbes.
Fenomena tersebut membuat langit tampak berkabut, seperti awan kelabu tebal di atas daratan dan membuat matahari terbenam tampak lebih jelas.
Debu itu dinamakan Saharan Air Layer (SAL). Fenomena itu merupakan massa udara kering dan berdebu yang terbentuk di Gurun Sahara pada musim semi, musim panas, dan awal musim gugur serta bergerak di atas Atlantik Utara yang tropis, menurut National Ocean and Atmospheric Administration AS.

(Foto: @hurricanetrack/Twitter)
Gumpalan debu dari Sahara adalah normal untuk sepanjang tahun ini. Meskipun demikian, fenomena yang dimulai di Afrika barat akhir pekan lalu menjadikan berita utama sebagai salah satu yang paling ekstrem dalam sejarah baru-baru ini.
Fenomena tersebut tampak jauh lebih jelas dalam citra satelit daripada yang lain karena ukurannya yang besar, CBS melaporkan.
Kabut debut itu diperkirakan akan mengenai Teluk Meksiko dan bagian-bagian AS, termasuk Texas dan Florida, mulai Rabu setelah melonjak melintasi Samudra Atlantik dan Laut Karibia akhir pekan lalu.
Fenomena ini akan membuat matahari terbit dan matahari terbenam penuh warna, menurut National Weather Service, serta langit yang berkabut.
(Ahmad Luthfi)