PARIS - Kekhawatiran gangguan mata rantai distribusi komponen dan suku cadang perakitan mobil mulai dirasakan oleh produsen di Eropa. Penyebabnya adalah belum pulihnya kegiatan manufaktur penyuplai bahan baku perakitan kendaraan yang berasal dari China, akibat wabah COVID-19.
Produsen seperti Kia Motors, mulai menyampaikan keluhan terkait gangguan mata rantai distribusi tersebut. Terlebih terdapat kebutuhan untuk membuat mobil berteknologi hybrid atau full listrik untuk mengejar pemenuhan kuota emisi yang disampaikan Uni Eropa.
Utilitas produksi kendaraan elektrifikasi itu menjadi kompensasi atas penjualan mobil bermesin konvensional, yang kemudian dihitung sebagai rerata hasil emisi karbon tiap produsen. "Saat ini kami belum dapat memperkirakan pengaruh nyata virus korona. Tetapi ada kemungkinan sasaran itu tak terpenuhi," ujar COO Kia Eropa, Emilio Herrera.
Virus korona jelas bukan faktor yang telah diperhitungkan sejak jauh-jauh hari oleh produsen. Jika akhirnya para produsen gagal memenuhi sasaran target emisi yang diminta Uni Eropa, Herrera menyebut seharusnya ada solusi untuk memberi keringanan denda karena faktor force majeure.
Angka permintaan dari Uni Eropa terkait rerata emisi karbon dari seluruh lini kendaraan yang diproduksi oleh tiap produsen mencapai 95 g/Km. Kia menyebut permintaan angka untuk tahun ini, hanya bisa dipenuhi dengan menggenjot penjualan produk hybrid, plug-in hybrid, maupun mobil full listrik.
(Amril Amarullah (Okezone))