Justru, kata Ja'far, sejak ia tampil di sebuah acara di televisi mulai banyak yang mengontak lewat Ig,Twitter, Fb, dan Whatshap sampai tidak terlayani lagi.
"Sudah banyak yang kontak, bahkan ada ribuan yang hendak minta dan membeli obat ini kebanyakan dari Luar Negri. Sayangnya, saya masih mengerjakannya secara konvesional, sehingga belum dapat memproduksi secara masal karna tidak ada apresiasi pemerintah indonesia terkait prestasi ini," terang Ja'far.
Diakui Ja'far, sudah ada beberapa pihak koorporasi yang sudah menghubungi, namun sejauh ini belum ada yang cocok.
"Alasannya, karena saya ingin, jika Allah berkehendak untuk dibuatkan pabrik, biarlah diisi oleh putra-putri negeri ini saja, tak perlu harus tenaga kerja asing. Itu niat dan harapan saya," pungkas Ja'far, yang kini tengah sibuk menjadi Duta Santripreneur Indonesia mempersiapkan agenda Santri Enterpreneurship di Sumatera Utara.