JAKARTA - Toyota Motor Corporation berkomitmen untuk menginvestasikan dananya sebesar Rp28 triliun ke Indonesia sebagai langkah mengembangkan mobil ramah lingkungan khususnya teknologi hybrid.
Dengan kepastian investasi Toyota tersebut, Indonesia akan menjadi negara basis produksi mobil terbesar di kawasan Asean. Saat ini Indonesia menjadi negara kedua dengan penjualan mobil terbesar di bawah Thailand yang memiliki produksi mobil mencapai 1,9 juta unit pertahun sedangkan Indonesia baru pada posisi ketiga.
Terkait kepastian investasi yang dilakukan Toyota Motor Corporation, Executive General Manager PT Toyota Astra Motor, Fransiskus Soerjopranoto mengaku belum mengetahui rencana investasi tersebut. Namun dirinya mengungkap langkah tersebut menjadi hal positif bagi industri automotif di Indonesia.
"Dengan investasi tersebut, tentu akan menunjang target dan pencapaian yang tengah dilakukan Toyota Astra Motor terkait penggunaan komponen lokal yang masih sangat besar digunakan pada jajaran produk Toyota," katanya.

Penggunaan komponen lokal pada jajaran produk Toyota juga dilakukan pada model yang di ekspor ke banyak negara. Hal tersebut membuktikan kualitas komponen lokal di Indonesia telah memenuhi standar international.
Pasar automotif Indonesia sendiri diprediksi akan terus menguat, ditengah bayang negara produsen seperti Vietnam yang sebelumnya diperhitungkan bisa menggeser posisi Indonesia sebagai negara produsen terbesar kedua.
Posisi Vietnam, sendiri menurut Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara Basis negara produksi mobil di Asean masih dipimpin Thailand, Indonesia, Malaysia dan Vietnam. Namun Vietnam sendiri telah menjadi sinyal negara yang harus diwaspadai sebagai negara produsen yang bisa menjadi besar di Asean.

Risiko terjadinya hal tersebut tentu pada pengurangan para pekerja, karena produksi mobil berkurang. Penyerapan tenaga kerja yang lebih besar tentu akan terjadi dari investasi yang dilakukan Toyota. Selain itu, persaingan satu merek di negara Asean, semakin memposisikan Toyota Indonesia sebagai produsen yang lebih siap dibanding negara lain.
Toyota sendiri akan melakukan pengembangan terhadap mobil ramah lingkungan, dimana tahap awal, Toyota sebagai produsen terbesar di Indonesia, akan mengembangkan kendaraan berbasis listrik khususnya mobil bertenaga hybrid untuk pasar automotif Indonesia.
Langkah investasi ini, merupakan salah satu upaya dari Toyota untuk mendukung rencana lahirnya Perpres mobil listrik di Indonesia. Terlebih Indonesia telah menjadi salah satu pasar potensial bagi Toyota Motor Corporation.
Dalam beberapa pameran, Toyota Astra Motor juga telah memamerkan Mirai kendaraan bahan bakar hydrogen, Prius Hybrid, serta Camry hybrid yang menjadi kendaraan ramah lingkungan yang telah dipasarkan di Indonesia.

Pemerintah dalam waktu dekat dikabarkan akan meluncurkan Perpres mobil listrik yang akan mengatur hadirnya mobil listrik di Indonesia. Bahkan Menteri Perindustrian telah menyebut peraturan presiden tersebut telah selesai dirancang dan tinggal menunggu peluncurannya saja.
"Sudah (perpres) sudah selesai dalam pembahasan, kita tunggu saja, semoga bulan depan sudah bisa diluncurkan oleh pemerintah," ungkap Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Jakarta beberapa waktu lalu.
Ia juga menjelaskan, saat ini Perpres mobil listrik tersebut akan diluncurkan berbarengan dengan paket PPnBM dan Super Deductible Tax yang akan menjadi 'senjata' bagi pemerintah untuk mendorong poplasi mobil listrik.
Rencananya aturan Perpres mobil listrik ini akan dikeluarkan bersamaan dengan paket dari PPNBM dan super deductable tax dimana mobil listrik yang akan dipasarkan akan mendapat insentif pengurangan pajak diatas 100 persen.

Super deduction tax merupakan insentif pajak yang diberikan dengan memperbesar faktor pengurang pajak penghasilan (PPh) agar PPh yang dibayarkan badan usaha lebih kecil. Insentif fiskal ini rencananya diberikan kepada industri yang terlibat dalam program pendidikan vokasi, serta melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan (litbang) untuk menghasilkan inovasi.
Dengan hadirnya Perpres mobil listrik yang lengkap dipastikan harga kendaraan ramah lingkungan ini akan lebih terjangkau bagi konsumen di Indonesia. Langkah ini merupakan kebijakan yang juga dijalankan banyak negara sebagai langkah mempercepat pertumbuhan mobil listrik.
Meski akan menjadi angin segar, Prepres mobil listrik yang akan dibarengi dengan PPNBM dan super deduction tax. “Kami masih menunggu penandatanganan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebelum mengimplementasikan super deduction tax. Implementasinya semester pertama tahun ini,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Jakarta.
(Mufrod)