Pada Maret lalu, Samsung merilis video yang memperlihatkan sebuah robot melipat ponsel Galaxy Fold sebanyak 200.000 kali untuk menguji ketahanan ponsel itu.
Kepala Teknologi Informasi dan Komunikasi Samsung, DJ Koh, berulang kali mengatakan ponsel yang bisa dilipat adalah masa depan ponsel pintar.
Menurut para pengamat, meski isu tersebut tidak berpengaruh pada neraca keuangan Samsung, penundaan merusak upaya perusahaan tersebut untuk tampil sebagai inovator pertama dan bukannya pengekor.
Ada juga beberapa kasus di mana para pengulas membuang lapisan layar karena salah sangka. Mereka berpikir lapisan tersebut adalah pelindung layar yang bisa dibuang.
“Ini celaka. Samsung mengirim sampel-sampel kepada para pengulas tanpa instruksi yang jelas bagaimana menggunakan gawai tersebut dan jelas dia harus memperbaiki layar yang berkelap-kelip,” kata analis Kim Young-woo dari perusahaan pialang sekuritas, SK Securities.