Reuters melaporkan bahwa layanan pemeriksaan fakta WhatsApp, yang diluncurkan pada 2 April 2019 ini, mungkin mengalami beberapa masalah awal. Sebuah pesan yang dilaporkan oleh outlet masih menunggu klasifikasi dua jam kemudian.
Tujuan dari inisiatif baru ini, menurut pendiri Proto, Ritvvij Parrikh dan Nasr ul Hadi, adalah untuk mempelajari fenomena informasi yang salah pada skala.
“Semakin banyak data mengalir, kita akan dapat mengidentifikasi yang paling rentan atau terpengaruh. masalah, lokasi, bahasa, wilayah, dan banyak lagi," kata Proto.
Sebanyak lima bahasa akan didukung oleh Checkpoint Tipline yakni Inggris, Hindi, Telugu, Bengali, dan Malayalam. Selain itu, layanan ini akan mendukung penyebaran informasi yang salah dalam bentuk teks, video, dan gambar.
(Ahmad Luthfi)