Mobil itu juga dapat bergerak ke posisi aman jika terjadi insiden di jalanan sekitar, baik secara otonom maupun melalui konektivitas dengan pusat pemantau, teknologi yang sedang dikembangkan di Renault Alliance. Berbagai perusahaan juga telah mengembangkan mobil otonom versi mereka sendiri.
Beberapa mobil otonom telah diuji coba di jalanan. Para pengamat menyatakan, mobil-mobil otonom atau self driving itu dapat merevolusi cara orang-orang difabel terhubung dengan komunitas mereka dan melakukan perjalanan jauh dari rumah. Orang yang tidak bisa melihat dengan baik atau mengalami masalah fisik dan mental dapat menghalangi mereka mengemudi dengan aman.
Mereka pun biasanya bergantung pada orang lain untuk membantu mereka beraktivitas keluar rumah. Dengan kemajuan pesat dalam mesin pembelajar dan kecerdasan buatan, maka kendaraan itu dapat memahami perintah lisan, mengamati kondisi sekitar, dan berkomunikasi dengan orang.
Jika digabungkan, berbagai teknologi itu bisa memberi mobilitas independen kepada orang-orang difabel yang biasanya membutuhkan pendamping manusia. Berbagai teknologi yang dibutuhkan itu telah ada sekarang, paling tidak dalam bentuk pengembangan awal. Google telah meminta seorang tunanetra menguji mobil otonomnya.
Microsoft juga telah merilis aplikasi yang disebut Seeing AI yang membantu orang dengan penglihatan terbatas agar bisa memahami lingkungan sekitar. Seeing AI menggunakan mesin pembelajar, pemroses bahasa alami, dan visi komputer untuk memahami dunia dan menggambarkannya dengan kata-kata pada pengguna aplikasi tersebut.
Texas A&M Transportation Institute sedang mengembangkan algoritma bagi orang dengan dan tanpa disabilitas serta kendaraan otonom yang bisa saling berkomunikasi dengan kata-kata, suara, dan layar elektronik.
[Baca Juga: Google Bakal Uji Truk Semi Otonom Pekan Depan]
(Abu Sahma Pane)