Tepat sebelum Gagarin mendarat di Desa Uzmoriye, dekat Sungai Volga, seorang petani setempat beserta putrinya melihat Gagarin melayang dengan parasutnya. Begitu mendarat di tanah, Gagarin mengenakan busana angkasawan berwarna oranye dan mengenakan helm putih besar, dan membuat takut kedua orang itu. Butuh beberapa saat bagi Gagarin untuk meyakinkan mereka bahwa dia juga orang Rusia.
Begitu kaki Gagarin menginjak kembali bumi, ia menjadi pahlawan internasional. Prestasinya dikenal di seluruh dunia. Dia telah menyelesaikan apa yang belum pernah dilakukan manusia lain sebelumnya. Keberhasilan penerbangan Yuri Gagarin ke luar angkasa membuka jalan bagi semua eksplorasi antariksa di masa setelahnya.
Setelah penerbangan pertamanya yang sukses ke luar angkasa, Gagarin tak pernah lagi dikirim ke luar angkasa. Sebagai gantinya, dia membantu melatih astronot generasi selanjutnya. Pada 27 Maret 1968, Gagarin menguji coba sebuah jet tempur MiG-15. Nahas pesawat tersebut jatuh ke tanah, dan membunuh Gagarin seketika.
Selama beberapa dekade, orang-orang berspekulasi terkait bagaimana bisa Gagarin sebagai orang yang berpengalaman terbang ke luar angkasa dengan selamat, namun meninggal dalam penerbangan biasa. Beberapa orang mengira ia sedang mabuk, sementara lainnya percaya bahwa pemimpin Soviet pada saat itu, Leonid Brezhnev menginginkan Gagarin mati karena dia cemburu dengan popularitas astronot.
Namun pada Juni 2013, astronot Alexey Leonov mengungkapkan bahwa kecelakaan tersebut disebabkan oleh sebuah jet tempur Sukhoi yang terbang terlalu rendah. Terbang dengan kecepatan supersonik, jet tersebut kemungkinan menjungkirbalikkan MiG dan membawa MiG Gagarin ke dalam spiral yang dalam.
Yuri Gagarin tercatat meninggal dalam usia yang muda, yakni 34 tahun yang turut merampas dunia pahlawan pada saat itu. (lnm).
(Kemas Irawan Nurrachman)