Orang-orang yang mengaku telah mendaftarkan diri untuk menjadi driver itu lantas menanyakan, apakah dokumen yang telah diberikan itu telah selesai diproses dengan mendatangi kantor Blu-Jek. Setelah dicek, kata Michael, ternyata nama-nama para pendaftar itu tidak ada di arsip dokumen perusahaan. Kisruh pun terjadi sebab mereka telah menyerahkan sejumlah uang kepada si calo, agar dapat menjadi pengemudi Blu-Jek.
“Ada yang bilang kasih uang sebesar Rp300-500 ribu hingga Rp1 juta kepada si calo itu,” tutur Michael.
Berawal dari sana, ucap Michael, Blu-Jek menelusuri siapa yang bertanggung jawab atas masalah ini. Akhirnya ditemukan, ada calo-calo yang bermain di sana.
Diterangkan Mike para calo tersebut bisa tersebar di mana saja. Lucunya, dirinya bersama Founder Blu-Jek, Garret Kartono, pernah memergoki ada calo yang coba melancarkan aksi di depan kantor Blu-Jek sendiri yang terletak di Jakarta Selatan.
“Modus yang digunakan para calo ketika melancarkan aksinya, biasanya mereka mengiming-imingi calon korban dengan menjanjikan akan mendapatkan proses yang mudah dan cepat untuk menjadi calon pengemudi Blu-Jek. Selain meminta dokumen-dokumen yang dibutuhkan, calo pun meminta uang meski mendaftar menjadi calon driver Blu-Jek tidak dipungut biaya,” ucap Michael lagi.