Ketika Pemerintah Inggris membuat kebijakan pembatasan bahan bakar minyak pada 1950-an, maka produsen automotif Mini menawarkan sebuah solusi kendaraan yang efisien. Desain mesin yang melintang dengan penggerak roda depan memberi keuntungan. Ruang kabin menjadi luas karena semua komponen hanya terletak di depan.
Mini bisa disebut sebagai brand mobil yang konsisten menghadirkan produk mobil FWD. Mobil mungil itu tidak menggunakan penghubung langsung dari mesin ke roda belakang, sehingga bobotnya lebih ringan dan otomatis konsumsi bahan bakarnya lebih efisien. Dampaknya, biaya produksi kendaraan "tarik roda depan" ini lebih murah ketimbang penggerak roda belakang.
Masuk ke periode 1980-1990-an produsen automotif Jepang mulai mengembangkan mobil berbasis penggerak roda depan dengan didominasi model sedan maupun hatchback, seperti Toyota dengan sedan Corolla, Honda dengan seluruh sedannya, Mitsubishi dengan varian Galant generasi kelima, Suzuki Cultus atau di Indonesia dikenal dengan Forsa, serta Daihatsu Charade.
Dengan teknologi yang kian berkembang, pada era 2000-an produk mobil sistem penggerak 'tanpa gardan' ini mulai merambah ke produk model MPV. Kini beberapa mobil keluarga yang dijual di Tanah Air, seperti Suzuki Ertiga, Honda Mobilio, Nissan Grand Livina, dan Chevrolet Spin juga menggunakan sistem FWD.
(Dian AF)