Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa keberadaan model AI ini dirancang agar tidak menjadi black box atau ruang gelap teknologi, melainkan sebuah sistem akuntabel yang dapat dipertanggungjawabkan. Riset multiyears ini juga ditargetkan dapat melahirkan Digital Religious Extremism Risk Index (DRERI) sebagai acuan pembuat kebijakan pemerintah.
"Jadi Digital Religious Extremism Risk Index ini diharapkan bisa menjadi policy di Kementerian Agama dan Kementerian Komdigi, sekaligus berjejaring dengan BNPT. Terutama yang menjadi sasaran adalah anak-anak muda yang rentan terpapar karena merupakan digital native," tutur Gun Gun.
Adapun tim anggota peneliti riset tersebut terdiri dari dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Dr. Rubiyanah, M.A. dan Abdul Azis, M.P., serta dosen UIN Mataram Zaenudin Amruloh, M.A.
(Rahman Asmardika)