Sempat Dihapus karena Materi Pelecehan Anak, Telegram Muncul Lagi di App Store

Rahman Asmardika, Jurnalis
Selasa 04 Agustus 2026 13:15 WIB
Ilustrasi.
Share :

Bulan lalu, Rusia memasukkan pendiri Telegram kelahiran Rusia, Pavel Durov, ke dalam daftar buronan atas tuduhan terorisme dan menetapkannya sebagai orang yang terlibat dalam terorisme dan ekstremisme. Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) menuduh Durov gagal menonaktifkan chatbot kencan yang digunakan Ukraina untuk merekrut warga Rusia muda untuk melakukan pembakaran dan bentuk sabotase lainnya.

Durov, yang telah tinggal di luar Rusia sejak 2014, mengatakan dia dimasukkan ke dalam daftar teroris “karena menolak tuntutan pengawasan dan sensor massal di Telegram.”

Durov sempat ditahan di bandara di luar Paris pada tahun 2024 setelah pihak berwenang Prancis menuduhnya membiarkan kejahatan terorganisir berkembang di Telegram. Ia kemudian mengklaim bahwa dinas intelijen Prancis telah mencoba menekannya untuk memberlakukan sensor politik, termasuk penindakan terhadap suara-suara konservatif selama pemilihan presiden Rumania yang kontroversial pada tahun 2025. Prancis membantah klaimnya.

Aplikasi pesan tersebut sempat diblokir di Brasil pada Maret 2022 dan April 2023, setelah pihak berwenang menuduh platform tersebut gagal mengekang penyebaran informasi yang salah dan kelompok obrolan neo-Nazi. Tak hanya di Brasil, Telegram juga dilarang di Rusia, pertama kali pada 2018 dan kini pada Februari 2026 atas dugaan pelanggaran hukum.

(Rahman Asmardika)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Ototekno lainnya