Era Keemasan Industri Otomotif China Disebut Telah Berakhir, Ini Alasannya

Erha Aprili Ramadhoni, Jurnalis
Selasa 02 Juni 2026 18:00 WIB
Era Keemasan Industri Otomotif China Disebut Telah Berakhir, Ini Alasannya (Ilustrasi/Car News China)
Share :

JAKARTA - Era keemasan industri otomotif China telah berakhir. Hal itu menurut bos perusahaan otomotif China, Nio. 

1. Era Keemasan Otomotif China Berakhir

Penjualan mobil baru di China terus melambat. Melansir Car Expert, Selasa (2/6/2026), penjualan mobil baru China turun sepanjang 7 bulan berturut-turut hingga April 2026. Hal ini karena sentimen konsumen yang lebih lemah dan pasar yang semakin matang terus mendorong tingkat penjualan yang sebelumnya tinggi menjadi tidak terjangkau. Kondisi ini diperkirakan berlanjut hingga Mei.

Sementara itu, penjualan mobil PHEV dan EV juga diperkirakan melambat.

Turunnya penjualan mobil baru ini memiliki konsekuensi yang lebih besar bagi merek-merek kendaraan listrik, seperti Nio, fokus pada pembeli China. Hal ini berbeda dengan BYD, Chery, dan SAIC Motor yang semakin menggencarkan ekspor.

Nio, yang bukan milik negara, memproduksi hatchback EV Firefly bergaya retro.

Menurut CEO Nio, William Li, saat ini ada lebih banyak peluang di luar negeri daripada di dalam negeri. Perusahaan tersebut mengatakan bekerja lebih keras untuk mendapatkan hasil di pasar domestik.

Dengan 370 juta kendaraan di jalanannya, ia menyebut China bukan pasar berkembang. "Bukan lagi pasar yang berkembang, melainkan pasar yang jenuh," kata Li, seperti dilansir Reuters.

Li mengatakan industri otomotif China telah melewati "era keemasannya" karena merek-merek berupaya mempertahankan pangsa pasar setelah bertahun-tahun ekspansi. Hal ini sambil meningkatkan margin keuntungan untuk menutupi kurangnya pertumbuhan volume penjualan.

 

Banyak merek telah beralih ke ekspor. Hal ini dibuktikan dengan China menyalip Jepang pada 2025 untuk menjadi negara penghasil kendaraan terbesar di dunia. BYD dan Geely kini termasuk di antara 10 grup otomotif terlaris di dunia.

Namun secara keseluruhan, BYD gagal mencapai target penjualan tahun 2025 hampir satu juta kendaraan. Sebagian besar pertumbuhannya berasal dari ekspor karena pertumbuhan penjualan di China melambat menjadi tujuh persen.

Meskipun menjadi rumah bagi ratusan merek mobil, hanya segelintir produsen mobil China  yang dilaporkan menghasilkan keuntungan, dengan periode konsolidasi yang diperkirakan akan terjadi karena industri ini semakin beralih ke luar negeri.

(Erha Aprili Ramadhoni)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Ototekno lainnya