JAKARTA - Keselamatan berkendara tidak hanya ditentukan keterampilan mengemudi, tetapi juga oleh kedisiplinan dalam menerapkan budaya defensive driving. Di tengah dinamika lalu lintas, pengendara dituntut selalu waspada, mampu memprediksi
potensi bahaya, serta mengambil keputusan secara tepat guna meminimalkan risiko kecelakaan.
Defensive driving merupakan cara berkendara yang menekankan sikap proaktif, bukan reaktif. Pengendara akan lebih antisipatif terhadap situasi di sekitar kendaraan serta membaca potensi risiko selama perjalanan. Pendekatan tersebut membantu pengemudi
dalam mengambil keputusan secara tepat di berbagai kondisi lalu lintas.
“Potensi risiko perjalanan selalu ada, termasuk saat lalu lintas meningkat, seperti pada periode libur panjang. Agar semua pengguna jalan bisa meminimalisir potensi tersebut bersama-sama, akan lebih baik jika kita menerapkan defensive driving,” ujar Asst to Aftersales Department Head of Service PT Suzuki Indomobil Sales (SIS), Hariadi, Minggu (31/5/2026).
Berikut panduan sederhana dalam menerapkan defensive driving:
Periksa ban, rem, lampu, wiper, dan cairan kendaraan sebelum perjalanan jauh.
Beri ruang cukup dengan kendaraan di depan agar memiliki waktu untuk bereaksi.
Hindari pindah lajur mendadak dan selalu menyalakan
lampu sein sebelum berpindah jalur.
Periksa kaca spion secara berkala, termasuk area belakang kendaraan, agar lebih siap menghadapi pergerakan kendaraan lain.
Ikuti batas kecepatan, tetap tenang, dan hindari
berkendara agresif.
Jika konsentrasi mulai menurun, berhenti sejenak di rest area atau lokasi aman.
Selain perilaku berkendara yang tepat, penggunaan perangkat tambahan seperti kamera pemantau perjalanan kini banyak dipilih pengendara. Perangkat ini berperan penting sebagai alat dokumentasi sekaligus memberikan rasa tenang jika terjadi kondisi tidak terduga. Suzuki merespons kebutuhan tersebut pada model New XL7 Alpha Hybrid melalui penyematan fitur Smart e-Mirror.
Fitur yang menjadi mata tambahan ini memberikan 3 manfaat yang juga mendukung
keselamatan berkendara, antara lain:
Posisi kamera di pintu bagasi dengan sudut kamera lebar memberikan pandangan ke belakang mobil secara lebih jelas tanpa terhalang barang bawaan atau penumpang di dalam kabin.
Tampilan visual yang lebih terang dan stabil memungkinkan pengendara merespons situasi jalan dengan lebih baik. Dalam praktik defensive driving,
kemampuan mengenali potensi bahaya lebih awal menjadi nilai tambah yang sangat penting untuk menjaga keselamatan.
Perangkat memiliki kemampuan untuk melakukan perekaman pada area depan dan belakang kendaraan. Pemilik kendaraan seperti memiliki CCTV apabila
terdapat suatu hal yang memerlukan bukti rekaman perjalanan.
“Kehadiran fitur ini menjadi relevan bagi konsumen yang membutuhkan visibilitas tambahan, terutama saat berkendara bersama keluarga, membawa barang bawaan, atau menempuh jalur antarkota dengan kondisi lalu lintas beragam,” ucap Hariadi.
Meski memiliki kelebihan, Suzuki menegaskan Smart e-Mirror berperan sebagai pendukung, bukan pengganti kesigapan pengemudi. Perpaduan teknologi dan kebiasaan berkendara secara tepat menjadi kunci keselamatan di jalan.
“Teknologi dapat membantu perjalanan menjadi lebih aman, tetapi perilaku berkendara antisipatif tetap menjadi faktor penentu. Defensive driving membantu pengemudi tetap waspada dan terkendali dalam menghadapi berbagai situasi di jalan,” tuturnya.
(Erha Aprili Ramadhoni)